Sunday, January 29, 2017

Kereta Perang yang menyala-nyala dari langit






Kira-kira pada awal abad ini terjadi suatu penemuan yang menggemparkan, yakni penemuan lembaranlembaran
hikayat terbuat dari tanah liat, yang memuat sanjak kepahlawanan yang sangat ekspresif. Bendabenda
itu milik perpustakaan Raja Asria, Ashurbanipal. Sanjak itu ditulis dalam bahasa Akadia. Setelah itu
ditemukan lagi salinan keduanya yang berasal dari raja Murabi.
Telah terbukti dengan nyata bahwa versi asli dari sanjak kepahlawanan Gilgamesh itu berasal dari bangsa
Sumeria, suatu bangsa yang asal-usulnya tidak dikenal, tetapi pernah meninggalkan bilangan yang terdiri dari
lima belas angka itu dan astronomi yang sudah maju. Jelas juga kiranya bahwa garis besar dari sanjak
kepahlawanan Gilgamesh itu sejajar dengan kitab Injil tentang Kejadian. Lembaran hikayat pertama yang
ditemukan di Kuyunjik ada hubungannya dengan pembangunan tembok sekeliling Uruk oleh pahlawan
Gilgamesh. Lembaran hikayat itu dapat dibaca bahwa “Dewa dari Sorga” hidup dalam istana negara yang
mempunyai banyak lumbung dan bahwa pengawal istana berjaga-jaga di atas tembok itu. Dari hikayat itu
dapat diketahui pula bahwa Gilgamesh adalah balatentara yang tubuhnya dua pertiga dewa dan sepertiga
manusia. Para pengarak yang datang ke Uruk dan menatap pada Gilga mesh, menggigil ketakutan karena
wajahnya jauh dari tampan dan gagah. Dengan perkataan lain, keterangan pertama dari hikayat itu sekali lagi
mengandung gagasan tentang keturunan campuran antara “dewa” dan manusia.
Lembaran ke dua dari hikayat itu menceriterakan bahwa seorang tokoh lain, yakni Enkidu telah diciptakan oleh
seorang “dewi “ dari sorga bernama Auru. Enkidu diterangkan terperinci sekali dalam hikayat itu. Badannya
berbulu lebat, bajunya dari kulit binatang, makanannya rumput dan minumannya air dari tempat minum ternak.
Ia suka bersenang-senang di bawah air terjun yang deras. Ketika Gigamesh, raja dari Uruk mendengar
tingkahlaku Enkidu yang aneh ini, ia menyarankan supaya Enkidu dikasih wanita cantik agar dia ke luar dari
lingkungan ternak. Enkidu yang tak berdosa itu telah terjebak oleh muslihat raja, dan hidup bersama dengan
wanita setengah dewi yang cantik jelita selama enam hari enam malam. Sekelumit peristiwa mesum dalam
istana ini, menyebabkan kita menduga bahwa perkawinan silang antara makhluk setengah dewa dan makhluk
setengah binatang tidaklah menjadi persoalan su sila dalam dunia yang biadab ini.
Lembaran ke tiga dari hikayat itu, mengkhabarkan kepada kita tentang adanya awan debu yang datang dari
jauh. Sorga meraung -raung, bumi goncang dan akhirnya “dewa matahari” datang dan menyergap Enkidu
dengan sayapnya, dan badan Enkidu yang menjadi amat berat itu menggeletak bagaikan batu besar.Demikian
yang dapat kita baca.
Sekalipun kita anggap ceritera itu hanya khayalan belaka dari pengarangnya namun hal-hal yang
mengherankan masih tetap ada. Bagaimana para pengkisah lama itu mengetahui bahwa Enkidu itu dengan
mendadak menjadi berat bagaikan timah?
Sekarang kita mengetahui gaya tarik bumi dan gaya akselerasi kecepatan benda yang jatuh bebas dari atas.
Beberapa besar gaya tarik bumi yang menekan badan astronot kepada kursinya pada waktu lepas landas
dapat diperhitungkan sebelumnya. Tetapi, bagaimana gagasan ini timbul pada para pengkisah hikayat
purbakala?

Sunday, January 22, 2017

Alam Mustahil yang tidak dijelaskan




Keterangan tentang masa lampau kita yang bersejarah itu kita kumpulkan dari pengetahuan tidak langsung.
Kita telah menggunakan hasil-hasil penggalian, naskah-naskah kuno. Iukisan-lukisan dalam gua, legendalegenda
dan lain sebagainya untuk menyusun suatu hipotesa kerja. Dari semua bahan itu telah dibuat mosaik
yang mengesankan dan menarik, Tetapi mosaik itu merupakan produk da ri pola pemikiran yang telah
dipertimbangkan terlebih dahulu. Bagian-bagiannya selalu dapat kita pasang ke dalam pola itu sekalipun sering
sekali harus menggunakan perekat yang terlalu jelas terlihat.
Suatu peristiwa pasti telah terjadi dengan sesuatu cara tertentu. Dan hanya dengan cara tertentu itu sajalah,
tidak dengan cara lain. Lihatlah kalau memang itu yang dikehendaki oleh para sarjana memang dengan cara
itulah terjadinya peris tiwa tersebut. Kita memang berhak untuk meragukan setiap pola pemikiran yang diterima
atau suatu hipotesa kerja, karena jika sesuatu gagasan tidak dipertanyakan, berarti penelitian telah selesai.
Karena itu kebenaran dari masa lampau kita yang bersejarah itu, hanyalah relatif sifatnya. Bila dari masa
lampau muncul aspek baru maka betapa pun populernya, hipotesa kerja itu harus diganti dengan yang baru.
Kiranya sekarang telah tiba saatnya untuk memperkenalkan suatu hipotesa kerja baru yang akan kita
tempatkan di pusat penelitian tentang masa lampau kita.
Pengetahuan baru tentang tatasurya dan alam semesta, tentang makro kosmos dan mikro kosmos, kemajuankemajuan
hebat dalam teknologi dan pengobatan, dalam biologi dan geologi, awal wisata ruang angkasa dan
hal-hal lain; kesemuanya ini sama sekali mengubah gambaran dunia kita hanya dalam waktu kurang dari lima
puluh tahun.
Sekarang kita mengetahui bahwa ada kemungkinan untuk membuat pakaian ruang angkasa yang dapat
menahan perbedaan walau besar se kali antara panas dan dingin. Sekarang kita mengetahui, bahwa wisata
ruang angkasa bukan lagi merupakan gagasan utopis. Kita telah mengenal keajaiban televisi berwarna seperti
pengetahuan kita tentang bagaimana mengukur kecepatan cahaya dan menghitung konsekwensi dari teori
relativitas.
Gambaran dunia kita yang sudah membeku itu sekarang mencair kembali. Hipotesa-hipotesa kerja baru
memerlukan norma, memerlukan patokan. Misalnya, di kemudian hari arkeologi kita tidak lagi hanya persoalan
penggalinya. Pengumpulan dan penggolongan penemuan-penemuan arkeologis semata, tidak akan memadai.
Kalau ingin mendapatkan gambaran yang dapat dipercaya tentang masa silam kita dari arkeologi itu, cabang
ilmu pengetahuan lain harus diikut sertakan dalam penelitian.
Mari kita masuki alam mustahil itu dengan pikiran terbuka dan penuh dengan rasa ingin tahu. Mari kita coba
untuk mengambil dan menguasai harta peninggalan yang diwariskan oleh para dewa itu.
Pada awal abad ke delapan belas, di istana Topkapi Turki, ditemukan peta-peta kuno. Peta itu adalah milik
seorang perwira tinggi Angkatan Laut Turki Laksamana Piri Reis. Dua buah atlas yang disimpan di
perpustakaan negara di Berlin yang memuat gambar tang tepat dari laut Tengah dan daerah sekitar laut Mati,
juga berasal dari Laksamana Piri Reis ini.
Semua peta ini telah diserahkan kepada Arlington H. Mallerey seorang Kartograf Amerika untuk diteliti. Mallerey
memperkuat fakta yang luar biasa bahwa semua data geografi terdapat pada peta-peta itu, tetapi tidak
digambar pada tempat yang semestinya. Ia minta bantuan dari Walters seorang kartograf dari Biro Hidrografi
Angkatan Laut Amerika Serikat. Mallerey dan Walters bersama-sama menyusun suatu skala dan
mentransformasikan peta itu menjadi bola dunia. Mereka membuat penemuan yang menggemparkan. Petanya
memang cermat, bukan hanya mengenai Laut Tengah dan Laut Mati saja melainkan pantai-pantai Amerika
Utara dan Selatan bahkan garis-garis tinggi Permukaan Samudra Antartika pun dilukiskan dengan persis sekali
pada peta Piri Reis itu. Peta itu bukan hanya memproduksikan garis besarnya benua-benua melainkan juga
topografi dari daerah-daerah pedalaman. Pegunungan, puncak gunung, pulau, sungai dan dataran tinggi;
semuanya digambarkan de ngan ketepatan yang luar biasa.
Dalam tahun 1957 Tahun Geografis, peta-peta itu diserahkan kepada Bapak Jesnit Lineham, yang menjabat
direktur dari Weston Observatory merangkap juru potret pada Angkatan Laut Amerika Serikat. Setelah
memeriksanya dengan cermat, Bapak Lineham pun hanya dapat memperkuat ketepatannya yang fantastis itu
bahkan sampai mengenai daerah daerah yang di masa sekarang jarang se kali dipelajari. Yang paling
menonjol ialah bahwa pegunungan di Antartika yang baru ditemukan pada tahun 1952, dalam peta Reis telah
terdapat. Pegunungan itu telah tertutup oleh es beratus-ratus tahun lamanya . Peta kita sekarang dibuat
berdasar kan hasil pemetaan dengan menggunakan alat-alat gema suara.
Penyelidikan terakhir yang dilakukan oleh Profesor Charles. H. Hapgood dan akhli matematika Richard W.
Strachan telah memberikan informasi yang lebih mengherankan lagi. Setelah diadakan perbandingan dengan
hasil pemotretan bulatan dunia kita yang di lakukan secara modern dari satelit, perbandingan itu menunjukkan
bahwa peta aslinya dari Piri Reis itu pasti telah dibuat berdasarkan hasil pemotretan dari udara dengan keting
gian yang jauh sekali, Nah ! Bagaimana menjelaskan hal demikian itu?
Sebuah kapal ruang angkasa terbang diam di atas Kairo dan membidikkan kameranya lurus ke bawah.
Setelah filmnya dicuci maka akan terdapat gambaran ini; segala sesuatu yang ada dalam radius kira-kira 5.000
mil dari Kairo akan direproduksikan secara tepat, karena semuanya ada di bawah lensa. Tetapi negara-negara
dan benua-benua di luar radius itu akan berubah reproduksinya dari keadaan sebenarnya. Semakin jauh
pandangan kita dari titik pusat gambar, semakin banyak penyimpangan atau perubahan gambarnya. Mengapa
ini semua? karena bumi ini berbentuk bulatan, benua-benua yang jauh dari titik pusat “tenggelam ke bawah”.
Amerika Selatan misalnya, tampaknya berubah dengan janggal sekali pada ukuran memanjangnya, persis
seperti perubahan pada peta Piri Reis ! Dan juga persis seperti hasil-hasil pemotretan yang dilakukan satelit
bukan dari Amerika.
Ada satu atau dua pertanyaan yang dapat dijawab dengan cepat. Tak dapat disangsikan, bahwa nenek
moyang kita tak pernah membuat peta-peta itu. Namun demikian tak dapat disangsikan pula,bahwa peta-peta
itu telah dibuat dengan menggunakan bantuan teknik modern yakni dari udara.
Harus bagaimana kita menerangkan itu? Haruskah kita merasa puas dengan legenda yang di ceritakan oleh
seorang dewa kepada seorang pendeta tinggi? Atau tak usah kita perdulikan semua itu dan tak usah
mengindahkan keajaiban karena peta-peta itu cocok dengan gambaran dunia mental kita? Atau kita harus
berani mengusik sarang tawon dan menyatakan bahwa kartografi dari bola dunia kita itu dibuat dari pesawat
udara yang terbang tinggi atau dari suatu kapal ruang angkasa? Diakui bahwa peta milik Laksamana Turki itu
tidak originil. Peta itu entah merupakan salinan keberapa kalinya. Namun demikian sekalipun misalnya peta itu
telah ada sejak abad ke delapan belas, jadi ketika ditemukan baru saja selesai dibuat, kenyataan-kenyataan ini
semua sama saja, tidak dapat dijelaskan. Siapapun yang telah membuatnya, orang itu pasti telah pernah
mampu mengudara dan mampu memotret dari udara.
Tidak jauh dari laut, pada punggung gunung Peruvia di Andes, terletak suatu kota kuno Nazca. Di lembah
Palpa terdapat sebidang tanah datar yang panjangnya 37 mil, lebar 1 mil bertaburkan batu-batu kecil yang
menyerupai besi berkarat. Penduduk setempat menyebut daerah ini “pampa” (=daerah tak berpohonpohonan),
walau tetumbuhan apapun tak mungkin hidup di sana. Jika anda terbang di atas wilayah ini yakni
dataran Nazca anda akan dapat melihat garis besar-besar, yang dirancang secara geometris; beberapa
diantaranya sejajar sedangkan yang lainnya saling berpotongan atau dikelilingi oleh bidang-bidang trapesoidal.
Para arkeologis menyebut garis-garis ini “Jalan Inca”
Gagasan tak masuk akal ! Apa manfaatnya bagi orang Inca jalan yang satu sama lainnya se jajar ini? Apa lagi
yang saling berpotongan? Semuanya dirancang di atas tanah datar lalu tiba-ti ba buntu? Tentu saja tembikar
dan barang-barang keramik lainnya ditemukan juga di sini.
Tetapi menghubung-hubungkan garis yang di susun secara geometris itu dengan kebudayaan Nazca, hanya
karena alasan itu saja, sudah tentu merupakan penyederhanaan sesuatu secara berlebih-lebihan.
Sampai tahun 1952 tidak ada penggalian yang serius di daerah ini. Tidak ada urutan waktu yang nyata tentang
penemuan-penemuan itu. Baru sekarang garis-garis dan bentuk-bentuk geometris itu telah diukur. Hasilnya
menetapkan bahwa garis-garis itu telah dirancang sesuai dengan rencana astronomis. Profesor Alden Mason
seorang akhli dalam kepurbakalaan Peruvia, menduga bahwa dalam jajaran garis itu terdapat tanda-tanda
semacam agama dan juga semacam kalender.
Dilihat dari udara, dataran Nazca yang 37 mil panjangnya itu, kesan saya jelas sekali bagaikan sebuah
lapangan terbang.
Bagian yang manakah tentang gagasan ini yang tak masuk akal atau yang dibuat-buat? Penelitian tidak
mungkin terwujud sebelum obyek yang harus diteliti ditemukan ! Sekali ditemukan, maka barang itu digosok,
dipotong dan diratakan pinggir-pinggirnya sampai menjadi batu yang cukup ajaib, cocok dan sesuai dengan
mosaik yang telah ada. Arkeologi klasik tidak membenarkan bahwa rakyat pra-Inca pernah mempunyai teknik
peng ukuran tanah yang sempurna.Dan teori yang mengatakan bahwa di zaman purbakala pernah ada
pesawat udara adalah omong kosong belaka. Lalu dalam hal itu, apa gunanya garis-garis di Nazca itu?
Dugaan saya, garis-garis itu mungkin dirancang secara besar-besaran menurut sesuatu model, dan
menggunakan suatu sistem koordinator, atau mungkin juga dirancang menurut instruksi yang datang dari
sebuah pesawat udara. Untuk mengatakan dengan pasti, bahwa apakah dataran rendah di Nazca itu dulunya
adalah sebuah lapangan terbang, juga belum memungkinkan. Jika besi pernah dipergunakan, tentu sudah tak
akan ditemukan lagi di sana, karena besi pra sejarah tak dikenal orang. Logam akan berkarat dalam beberapa
tahun saja; sedangkan batu tak pernah berkarat. Apakah salah tentang gagasan bahwa garis-garis itu
dirancang untuk seolah-olah mengatakan kepada para dewa: “Mendaratlah di sini. Segala sesuatunya telah
kami buat sesuai dengan perintahmu?”.
Para pembuat garis berbentuk geometris mungkin tak pernah memahami apa yang mereka lakukan. Tetapi
barangkali mereka tahu benar apa yang para dewa butuhkan untuk mendarat.
Gambar-gambar besar yang tak dapat disangsikan bahwa semuanya telah dibuat sebagai isyarat bagi makhluk
yang melayang-layang di udara, banyak ditemukan di lereng-lereng pegunungan di Peru. Adakah guna lain
dari kesemuanya itu? Satu di antara gambar-gambar yang paling aneh ialah yang diukir pada dinding tinggi
dari batu karang terjal berwarna merah di Teluk Pisco. Jika anda datang ke tempat itu dengan kapal laut, dari
jarak 12 mil lebih anda akan dapat melihat suatu bentuk yang tingginya hampir 820 kaki, dan jika secara mainmain
anda berkata: “Itu seperti .......” maka reaksi anda ialah bahwa karya pemahat patung ini seperti suatu
tangkai kail raksasa atau seperti sebatang tempat lilin raksasa. Seutas tambang yang panjang ditemukan pula
pada pilar tengah dari batu ini. Apakah ini dulu digunakan sebagai pendulum?
Secara jujur harus kita akui bahwa bagaikan meraba-raba di dalam kegelapan apa bila kita mencoba
menjelaskannnya. Hal ini tak dapat pula dimasukkan ke dalam dogma-dogma yang telah ada. Ini bukan berarti
bahwa tidak mungkin ada suatu muslihat yang diperoleh dari cara berpikir arkeologis yang dapat diterima,
untuk digunakan oleh para sarjana menyusun phenomena ini ke da lam mosaik besar. Tetapi apa yang
mungkin telah mendorong rakyat pra Inca untuk membuat garis-garis fantastis atau landasan-landasan
pendaratan itu di Nazca? Otak miring apa yang mendorong mereka untuk menciptakan tanda dari batu
setinggi 820 kaki itu pada dinding batu karang merah di Lima Selatan?
Tugas untuk membuat kesemuanya itu akan memakan waktu berpuluh-puluh tahun apabila dilaksanakan
tanpa mesin dan peralatan modern. Seluruh kegiatan mereka tidak akan berguna jika hasil dari segala
upayanya bukan dimaksudkan sebagai isyarat kepada makhluk yang datang dari langit. Pertanyaan yang
masih harus dijawab ialah; Mengapa mereka berbuat demikian, kalau bukan karena mereka mengetahui
bahwa makhluk terbang itu benar-benar ada?.
Pengenalan hasil penemuan tidak lagi hanya masalah arkeologi. Suatu dewan yang terdiri dari sarjana-sarjana
dari berbagai bidang penelitian pasti dapat membawa kita pada pendekatan pemecahan teka-teki itu.
Pertukaran pendapat menghasilkan wawasan yang terang. Oleh karena para sarjana tidak menanggapi
persoalan demikian secara serius, maka terdapat bahaya bahwa penelitian tidak menghasilkan kesimpulan
yang pasti.
Adakah wisatawan ruang angkasa dalam kabut kelabu? Suatu pertanyaan yang tidak dapat diterima bagi para
akademisi. Setiap orang yang bertanya demikian perlu minta pertolongan doktor penyakit jiwa. Tetapi
pertanyaan tetap pertanyaan dan tetap mengiang di telinga sampai terjawab. Dan pertanyaan yang tak dapat
diterima seperti itu masih banyak. Sebagai contoh, apa kiranya yang akan dikatakan orang, kalau ada kalender
yang menunjukkan hari atau tanggal di mana siang dan malam sama panjang, menunjuk kan musim-musim
astronomis, posisi bulan tiap jam dan juga peredaran bulan, bahkan sampai memperhitungkan rotasi bumi?
Pertanyaan itu tidak hanya hipotetis. Kalender semacam ini ada. Kalender ini telah ditemukan dalam lumpur
kering di Tiahuanaco. Suatu penemuan yang membingungkan. Penemuan yang mengandung fakta yang tak
dapat dibantah, dan membuktikan bahwa makhluk hidup yang membuat, yang menemukan (menciptakan)
dan menggu nakan kalender itu mempunyai kebudayaan yang lebih tinggi dari pada kita.
Penemuan lain yang fantastis sekali ialah “Berhala Besar”, terbuat dari satu balok tunggal batu pasir yang
panjangnya lebih dari 24 kaki, seberat 20 ton. Berhala itu ditemukan di dalam Kuil Tua. Di sinipun dijumpai lagi
suatu kontradiksi antara mutu tinggi serta presisi beratus-ratus simbol yang terdapat pada seluruh tubuh
berhala itu dengan teknik primitif pembuatan bangunan di mana berhala itu ditempatkan. Memang nama Kuil
Tua itu cocok karena teknik pembuatannya yang primitif itu.
H.S. Bellamy dan P. Allan dalam bukunya yang berjudul “The Great Idol Tiahuanaco” telah membuat suatu
interpretasi yang cukup beralasan tentang simbol-simbol itu. Mereka berkesimpulan bahwa simbol-simbol itu
merupakan catatan kumpulan yang sangat banyak tentang pengetahuan astronomis, yang sebetulnya
didasarkan ke pada bentuk bumi yang bulat ini. Selanjutnya mereka simpulkan bahwa cacatan itu cocok sekali
dengan Teori tentang satelit, karya Hoerbiger yang di terbitkan tahun 1927, lima tahun sebelum patung berhala
itu ditemukan. Teori ini mendalilkan bahwa sebuah satelit pernah tertangkap oleh bumi. Karena satelit itu ditarik
mendekat ke bumi, maka satelit itu memperlambat perputaran bumi pada sumbunya. Akhirnya satelit itu
hancur dan diganti oleh bulan.
Simbol-simbol pada badan berhala itu mencatat dengan tepat phenomena yang dapat sejalan dengan teori ini
pada waktu satelit itu sedang mengorbit mengitari bumi sebanyak 425 kali putaran dalam satu tahun yang
berumur 288 hari. Mereka terpaksa berkesimpulan bahwa berhala itu mencatat keadaan benda-benda langit
pada 27.000 tahun yang lalu. Mereka menulis: “Pada umumnya prasasti pada patung berhala itu memberikan
kesan bahwa prasasti itu diciptakan juga sebagai catatan untuk generasi-generasi mendatang. Memang di sini
terdapat suatu benda purbakala yang perlu diterangkan lebih jelas dari pada hanya disebut “Seorang Dewa
Kuno”. Jika interpretasi tentang simbol-simbol ini dapat diperkuat, bila pertanyaan: “Apakah pengetahun
tentang astronomi ini benar-benar dikumpulkan oleh rakyat yang masih harus lebih banyak belajar tentang
bangunan, ataukah datang dari sumber yang ada di luar bumi ini?”. Bilamana salah satu saja dari ke dua hal itu
tergali adanya kumpulan pengetahuan yang cerdik dan jlimet pada 27.000 tahun yang lalu itu (yang
ditunjukkan baik oleh patung berhala maupun oleh kalender), adalah suatu gagasan yang mengagetkan.
Kota Tiahuanaco itu penuh dengan rahasia. Kota itu terletak pada ketinggian lebih dari 13.000 kaki dan bermilmil
jauhnya dari kota-kota lain. Jika anda berangkat dari Cuzco, Peru, anda akan mencapai kota dan tempattempat
penggalian itu setelah mengadakan perjalanan beberapa hari dengan kereta api dan kapal laut Dataran
tingginya mirip dengan suatu pemandangan di planet yang belum dikenal. Kerja tangan adalah siksaan Wagi
siapa saja yang bukan penduduk asli di sana. Tekanan udaranya kira-kira setengah dari tekanan udara di atas
permukaan laut dan sehubungan dengan itu kandungan oksigen dalam udaranya sudah tentu sedikit sekali.
Namun demikian di atas dataran tinggi ini berdiri suatu kota yang besar sekali.
Tidak ada tradisi otentik mengenai Tiahuanaco ini. Dalam hal ini barang kali kita harus merasa gembira bahwa
jawaban-jawaban yang dapat diterima tidak dapat dicapai dengan bersandar kepada cara belajar kuno yang
turun-temurun itu. Di atas reruntuhan yang sangat tua itu (kita tidak tahu berapa ribu tahun tuanya),
mengapunglah kabut masa lampau, kedunguan dari misteri atau kegaiban. Balok-balok batu pasir seberat 100
ton yang ditumpungi dengan balok-balok lain seberat 60 ton dijadikan dinding. Bidang-bidang lain yang bertepi
dan bersudut tepat pada persambungan dengan batu-batu persegi lainnya, yang disatukan oleh jepitan yang
terbuat dari tembaga. Di samping itu, semua susunan batu itu telah dikerjakan secara rapi sekali. Lubanglubang
sedalam 8 kaki yang sampai sekarang belum dijelaskan untuk apa terdapat dalam balok batu yang
beratnya 10 ton. Batu ubin yang sudah aus, yang panjangnya 16 ½ kaki dan merupakan satu potong batu
tanpa sambungan juga tidak membantu memecahkan teka-teki yang terdapat di Tiahuanaco itu. Saluran air
yang terbuat dari batu sepanjang 6 kaki dan lebar 1 ½ kaki, terdapat bertebaran di atas lantai bagaikan
mainan.
Tebaran benda-benda itu pasti disebabkan oleh bencana alam yang dahsyat. Penemuan ini telah mengejutkan
kita karena hasil karyanya yang begitu cermat. Apakah nenek moyang kita di Tiahuanaco tidak dapat berbuat
sesuatu yang lebih baik dari pada menghabiskan waktu bertahun tahun membuat saluran seperti itu tanpa
peralatan sedemikian cermatnya, sehingga kalau dibanding kan maka saluran air kita yang modern dan terbuat
dari beton itu seolah-olah hanyalah hasil pekerjaan yang ceroboh belaka?
Di halaman kuil yang sekarang telah dipugar, terdapat sekumpulan patung kepala campur aduk, yang kalau
diperhatikan dari dekat adalah merupakan kumpulan dari berbagai ras; karena sebagian mukanya ada yang
berbibir tipis, ada yang berbibir tebal; sebagian ada yang berhidung panjang, ada yang berhidung lengkung;
sebagian ada yang berkuping tipis bagus, ada yang berkuping tebal; sebagian berwajah lembut, ada yang
wajahnya ber sudut-sudut. Dan sebagian dari kepala-kepala itu berhelm aneh. Apakah bentuk-bentuk wajah
yang tak dikenal ini dimaksudkan untuk mencoba menyampaikan pesan kepada kita bahwa kita tidak dapat
dan tidak akan mengerti karena dicegah oleh sikap kita yang keras kepala dan berprasangka?.
Salah satu keajaiban arkeologi dari Amerika Selatan ialah Gerbang Monolitas Matahari di Tia huanaco yakni
suatu patung raksasa yang tingginya hampir 10 kaki, lebarnya 16 ½ kaki, dipahat dari satu balok batu tunggal.
Beratnya ditaksir lebih dari 10 ton. Empatpuluh delapan buah bujursangkar yang disusun dalam tiga deretan,
mengapit patung yang menggambarkan dewa terbang. Apakah yang diceritakan legenda tentang kota
Tiahuanaco yang misterius itu?
Alkisah, dikatakan orang bahwa sebuah kapal ruang angkasa terbuat dari emas pernah datang dari bintang; di
dalamnya terdapat seorang wanita yang bernama Oryana, yang akan melaksanakan tugas di bumi ini yakni
menjadi Ibu Agung. Oryana hanya mempunyai empat jari yang di sela-selanya berselaput seperti jari-jari kaki
bebek. Ibu Agung Oryana melahirkan 70 orang anak bumi, setelah itu ia kembali ke bintang tempat asalnya.
Memang di Tiahuanaco ditemukan pahatan-pahatan batu karang yang menggambarkan makhluk hidup yang
berjari empat. Abadnya tak dapat di tentukan. Tiada seorang pun dan dari abad mana pun yang telah kita
ketahui pernah melihat Tiahuanaco dalam keadaan utuh.
Rahasia apakah yang disembunyikan kota ini? Pesan apakah yang dikirim dari dunia lain, yang menanti
pemecahannya pada dataran tinggi di Bolivia itu? Tidak ada penjelasan yang masuk akal mengenai awal dan
akhir kebudayaan ini. Hal ini sudah tentu tidak akan menghentikan beberapa arkeologis membuat ketentuan
yang berani dan berkeyakinan pribadi menetapkan bahwa tempat re runtuhan itu telah berumur 3.000 tahun.
Mereka menentukan zaman ini berdasarkan beberapa patung yang menggelikan terbuat dari tanah dan yang
tak mungkin mempunyai sangkut paut dengan zaman monilit. Para sarjana mempermudah sesuatunya demi
kepentingan mereka. Mereka persatukan sejumlah pecahan-pecahan tembikar, men cari dan meneliti
kebudayaan dari satu atau dua zaman yang berdekatan, Kemudian label dipasang pada penemuan yang telah
dipersatukan tadi, dan dengan demikian cocoklah segala sesuatunya pada pola pemikiran yang telah disetujui.
Cara ini nyata sekali lebih mudah dari pada mencoba gagasan tentang adanya suatu keterampilan tehnik yang
diperlukan di suatu zaman,atau gagasan tentang adanya wisatawan ruang angkasa dari zaman yang telah
lama silam. Percobaan gagasan demikian dianggap hanya akan mempersulit persoalan, tanpa guna.
Kita juga jangan melupakan Sacsahuaman! Di sini saya tidak mengingatkan anda kembali kepada sistem
pertahanan Inca yang fantastis, yang terletak beberapa kaki di atas Cuzco sekarang; juga tidak kepada balokbalok
monolit yang berat semuanya lebih dari 100 ton; juga tidak kepada dinding-dinding teras yang
panjangnya lebih dari 1.500 kaki, dan lebarnya 54 kaki, yang di depannya sekarang para wisatawan suka
membuat foto untuk suvenir. Saya menunjukkan Sacsahuaman yang tidak dikenal, yang terletak hanya
setengah mil atau lebih dari benteng Inca yang terkenal itu.
Khayalan kita tak mampu memahami sumber tehnik apa yang telah digunakan nenek moyang kita untuk
menambang karang-karang monolit seberat 100 ton lebih sebuah, kemudian mengangkutnya dan
mengolahnya di tempat yang jauh dari tambang.
Tetapi jika kita dihadapkan kepada suatu balok yang beratnya ditaksir 20.000 ton, maka khayalan kita yang
sudah dibuat agak jemu oleh kemajuan teknik zaman sekarang, mendapat kejutan yang paling dahsyat. Pada
perjalanan pulang dari pertahanan Sacsahuaman, di dalam suatu kawah gunung, beberapa ratus yard jauhnya
dari benteng, pengunjung dapat melihat sesuatu yang bentuknya aneh. Itu adalah suatu balok batu tunggal
sebesar rumah bertingkat empat. Balok itu telah dihias sempurna sekali dengan seni yang paling tinggi;
mempunyai anak-anak tangga dan jalan-jalan melandai, serta di hiasi dengan spiral-spiral dan lubang-lubang.
Pembentukan balok batu yang belum pernah terjadi sebelumnya sudah tentu tidak hanya sekelumit kegiatan di
waktu santai belaka bagi sekelumit orang-orang Inca, bukan?
Adakah kemungkinan bahwa kegiatan itu untuk maksud yang belum dapat dijelaskan? Pemecahan teka-teki
itu dipersulit lagi oleh kenyataan bahwa balok itu berdiri hanya terbalik alias ter jungkir. Jadi anak-anak tangga
itu menurun dari atap; lubang-lubangnya menghadap kejurusan yang berlainan. Bagaikan lekukan-lekukan
pada granat. Cekungan-cekungan yang aneh, yang dibentuk seperti kursi kelihatan seperti melayang di udara.
Siapa yang dapat membayangkan bahwa tangan manusia, usaha menusialah yang menggali, mengangkut,
lalu membentuk balok batu ini? Kekuatan apakah yang telah menjungkirbalikkannya? Kekuatan raksasa
semacam apakah yang dipekerjakan di sini? Dan untuk maksud apa?
Masih dalam keadaan keheran-heranan karena batu yang aneh bentuknya itu, hanya 900 Yard dari sana,
pengunjung akan menemukan vitrifikasi karang, yakni perubahan karang menjadi semacam kaca yang hanya
mungkin dapat terjadi dengan jalan melabur batu pada suhu yang sangat tinggi. Para pengunjung diberi tahu
dengan tepat bahwa batu karang itu diturunkan ke bawah oleh gletsiergletsier. Keterangan ini menggelikan.
Gletsier seperti halnya dapat mengalir, akan mengalir ke bawah hanya ke satu sisi saja. Sifat zat ini hampir
tidak mungkin berubah justru pada saat terjadinya vitrifikasi. Bagaimanapun, tak dapat diterima akal, bahwa
gletsier mengalir turun ke enam arah yang berbeda-beda di atas areal sekitar 18.000 yard persegi.
Sacsahuaman dan Tiahuanaco menyembunyikan banyak sekali misteri pra sejarah. Keterangan-keterangan
yang beredar mengenai misteri itu sangat dangkal dan tidak meyakinkan. Selain itu vitrifikasi pasir terdapat pula
di gurun Gobi di sekitar tempat arkeologis tua di Irak. Siapakah yang dapat menjelaskan mengapa vitrifikasi
pasir ini sama benar dengan vitrifikasi yang terjadi di Gurun Nevada yang disebabkan oleh ledakan atom?
Bilakah akan dikerjakan sesuatu yang menentukan untuk memberikan jawaban yang meyakinkan kepada
teka-teki prasejarah itu? Di Tiahuanaco terdapat bukit-bukit buatan yang penuh tetumbuhan, yang
permukaannya rata benar, seluas 4.748 yard persegi. Agaknya sangat mungkin bahwa di bawahnya
tersembunyi bangunan-bangunan. Selama belum digali orang parit sepanjang deretan bukit-bukit itu, misteri itu
tidak akan terpecahkan. Tak dapat di sangkal bahwa uang adalah kurang. Namun demikian para wisatawan
sering melihat prajurit-prajurit dan para perwira yang nyata-nyata tidak mengerti pekerjaan apa yang berguna
dan harus dikerjakan. Apa salahnya kalau penggalian dilakukan oleh satu kompi tentara di bawah pengawasan
seorang akhli?
Uang tersedia untuk sekian banyak hal lain di dunia. Penelitian sangatlah penting bagi masa depan. Selama
masa silam kita belum terungkap maka buku catatan untuk masa depan tetap kosong. Tak dapatkah masa
silam menolong kita mencapai pemecahan teknis, di mana untuk pertama kalinya pemecahan itu telah ada di
zaman purbakala?
Jika dorongan untuk menemukan masa silam kita tidak cukup merangsang untuk menggerakkan pekerjaan
penelitian modern yang mendalam, barangkali mistar hitung dapat digunakan. Sebegitu jauh, pada segala
peristiwa belum ada seorang sarjanapun yang pernah diminta supaya menggunakan pesawat terbang modern
untuk menyelidiki radiasi di Tiahuanaco, di Sacsahuaman, Sodom yang ada dalam dongeng, atau di Gurun
Gobi. Naskah-naskah dongeng, atau yang bertulisan kuno dan lembaran sejarah dari buku tertua tentang
manusia; menceriterakan tanpa kecuali tentang para dewa yang mengendarai kapal sorga, para dewa yang
datang dari bintang, yang mempunyai senjata yang mengerikan, dan kembali lagi ke bintang asalnya. Mengapa
kita tidak mencari “dewa” tua itu? Para astronom radio kita mengirim isyarat-isyarat ke alam semesta untuk
mengadakan kontak dengan cendekiawan-cendekiawan yang belum dikenal. Mengapa kita tidak lebih dulu
mencari atau tidak sekaligus jejak-jejak dari para cendekiawan yang belum dikenal di bumi kita yang lebih
dekat? Bila kita tidak meraba-raba dengan membabi buta dalam kegelapan, jejak-jejak itu dapat dilihat oleh
semua orang.
Kira-kira 2.000 tahun sebelum zaman kita, orang-orang Sumeria telah mulai mencatat masa lampau rakyatnya
yang gemilang. Sampai sekarang kita masih belum mengetahui dari mana orang ini berasal. Tapi kita
mengetahui bahwa orang Sumeria ini membawa kebudayaan yang sudah maju dan tinggi, yang mereka
paksakan kepada rakyat Semit yang masih setengah biadab. Kita juga tahu bahwa mereka selalu mencari
dewa mereka di puncak-puncak gunung, dan jika tidak ada puncak gunung di daerah itu, mereka menduduki
dan mendirikan gunung-gunung buatan pada dataran-dataran rendah. Astronomi mereka telah berkembang
luar biasa. Observatorium mereka telah mencapai perkiraan rotasi bulan yang hanya berbeda 0,4 detik dari
perkiraan masa sekarang.
Di samping syair kepahlawanan yang menakjubkan dari Gilgamesh, mereka telah meninggalkan sesuatu yang
sensasionil sekali. Tentang syair kepahlawanan itu nanti akan saya ceritakan lebih banyak lagi. Di atas bukit
Kuyunjik (dahulu Ni niveh) terdapat suatu perhitungan dengan hasil akhirnya yang dalam notasi kita ialah:
195.995.200.000.000. Suatu bilangan terdiri dari lima be las angka. Keturunan dari kebudayaan Barat kita;
Junani, yang sering disebut sebagai telah belajar secara intensif, tak pernah meningkat di atas 10.000 selama
masa jayanya peradaban mereka. Segala yang di luar itu dengan se derhana dilukiskan sebagai “tak terbatas”.
Tulisan-tulisan kuno memberikan kehormatan secara harafiah dengan jenjang kehidupan yang fantastis
kepada orang Sumeria. Jadi, kesepuluh raja permulaan seluruhnya memerintah selama 456.000 tahun,
sedangkan kedua puluh raja yang mendapat tugas sulit untuk membangun negara kembali setelah banjir,
masih tetap dapat mempertahankan tampuk pimpinan pemerintahan seluruhnya selama 24.510 tahun 3 bulan
3 ½ hari.
Ada masa beberapa tahun yang tak dapat di mengerti oleh cara berpikir kita sekalipun nama-nama dari semua
penguasa tercantum pada daftar panjang, dan secara rapi diabadikan pada materai dan mata uang. Apakah
yang akan terjadi bila di sini pun kita memberanikan diri membuka tutup mata kita dan melihat pada hal yang
tua dengan mata yang segar masa kini?
Mari kita misalkan bahwa astronot-astronot asing telah mengunjungi wilayah orang Sumeria ribuan tahun yang
lalu. Misalnya lagi bahwa mereka telah meletakkan dasar-dasar peradaban dan kebudayaan rakyat. Dan
kemudian mereka kembali ke planet asal mereka setelah memberikan stimulan untuk perkembangan ini.
Selanjutnya mari kita membuat dalil bahwa kepenasaran mendorong mereka kembali kepada pemandangan
pekerjaan yang mereka rintis setiap seratus tahun bumi sekali untuk mencek hasil dari eksperimen mereka.
Menurut patokan harapan ke kehidupan kita masa sekarang, para astronot itu dengan mudah sekali dapat
lolos dari kepunahan selama 500 tahun bumi lagi. Menurut teori relativitas, para astronot itu selama
penerbangan pulang pergi dalam pesawat ruang angkasa yang terbang dengan kecepatan cahaya, hanya
mungkin dapat hidup selama empat puluh tahun. Selama abad itu orang-orang Sumeria mungkin telah
membangun menara, piramida-piramida, dan rumahrumah dengan segala kelengkapannya; mungkin telah
berkorban kepada para dewa mereka dan menantikan kedatangannya kembali. Dan setelah beratus-ratus
tahun bumi, para dewa itu betul-betul datang kembali. “Dan kemudian datanglah banjir, dan setelah banjir
maka datanglah kapal dewa turun dari langit sekali lagi”, demikian ditulis dalam tulisan kuno bangsa Sumeria.
Dalam bentuk apakah bangsa Sumeria itu mengkhayalkan dan menggambarkan dewa mereka Mitologi
bangsa Sumeria dan beberapa lembaran sejarah serta gambaran bangsa Akadia memberikan keterangan
tentang ini. “dewa” bangsa Sumeria tidak Antrophormophis dan tiap simbol dari seorang dewa juga ada
hubungannya dengan sebuah bintang.
Dalam lembaran sejarah bergambar bangsa Akadia, bintang-bintang dilukiskan seperti yang mungkin akan
digambarkan oleh manusia sekarang. Satu-satunya hal yang luar biasa ialah bahwa bintang-bintang ini
dikelilingi oleh planet-planet dari berbagai ukuran. Bagaimana bangsa Sumeria yang tidak mempunyai teknik
pengamatan langit seperti yang kita miliki sekarang mengetahui bahwa sebuah bintang yang tak berubah
tempatnya mempunyai sejumlah planet? Banyak terdapat corat-coret yang menggambarkan orang dengan
bintang di kepalanya, sedangkan yang lainnya meng gambarkan orang sedang mengendarai bola bersayap.
Ada pula suatu gambar yang seketika akan mengingatkan orang pada suatu model dari atom yakni suatu
lingkaran terdiri dari bola-bola yang disusun berdekatan dengan yang lain yang memancar, tetapi tidak dikitari
oleh sinar.
Jika kita melihat pusaka dari bangsa Sumeria dengan “mata ruang angkasa”, pusaka itu penuh dengan
pernyataan dan teka-teki; di samping itu, bagian-bagian yang dalam dan yang aneh-aneh dari langit semakin
berkurang artinya.
Berikut ini adalah sebagian dari yang aneh-aneh pada bidang geografi yang sama.
1. Gambar-gambar Spiral dari 6.000 tahun yang lalu di Geoy Tepe, suatu hal yang jarang terjadi.
2. Suatu industri batu api, yang dipercaya telah berumur 40.000 tahun di Gar Kobeh.
3. Penemuan-penemuan serupa di Baradostian ditaksir sudah berumur 30.000 tahun.
4. Benda-benda dari batu, pusara-pusara dan perlengkapan-perlengkapan dari batu di Tepe Asiab dari
13.000 tahun yang lalu.
5. Kotoran yang telah membatu. mungkin bukan kotoran manusia, ditemukan di tempat yang sama.
6. Alat-alat dan pengukir-pengukir batu ditemukan di Karim, Shahir. Senjatasenjata, geretan dan alat lain
ditemukan dari galian diBarda Balka. Kerangka-kerangka orang dewasa dan kanak-kanak ditemukan
dalam gua di Shandiar. Kerangka-kerangka ini ditetapkan dengan metoda (-14) berasal kira-kira dari
45.000 sebelum masehi.
Daftar itu dapat diperluas lagi, dan tiap fakta mungkin memperkuat penentuan bahwa di wilayah geografis
Tumer kira-kira 40.000 tahun yang lalu pernah hidup suatu campuran orang-orang primitif. Tetapi tiba-tiba
dengan alasan yang sampai saat ini tak dapat dijelaskan, bangsa Sumeria muncul di sana dengan
astronominya, dengan kebudayaannya dan teknologinya.
Kesimpulan yang dapat ditarik dari kehadiran para pengunjung yang tidak dikenal sebelumnya, yang datang
dari langit masih bersifat spekulatif. Kita dapat mengkhayalkan bahwa para “dewa ini mengumpulkan orangorang
yang setengah biadab di Tumer itu, di sekitar para dewa, dan memindahkan pengetahuannya kepada
mereka.
Patung kecil maupun besar di musium menunjukkan adanya campuran ras, ada yang bermata terbelalak, ada
yang dahinya menonjol, ada yang bibirnya tipis, ada yang hidungnya panjang dan lurus. Suatu gambaran yang
sukar sekali untuk di cocokkan ke dalam sistem pemikiran yang skematis, dan konsepsinya tentang orangorang
primitif. Para pengunjung dari langit di zaman pur bakala yang baru saja silam?
Di Libanon terdapat batu karang yang mirip kaca, yang disebut tekstite, di mana telah ditemukan isotop
alumunium yang radioaktif.
Di Mesir dan Irak ditemukan lensa-lensa kristal yang telah dipotong, yang kalau sekarang hanya mungkin
dilakukan dengan menggunakan oksida sesium; dengan perkataan lain suatu oksida yang harus dibuat
dengan proses kimia elektrolitis.
Di Helwan terdapat sehelai kain, suatu tenunan yang sedemikian halusnya sehingga kalau sekarang hanya
mungkin bisa ditenun oleh suatu pabrik tekstil yang mempunyai kecakapan teknis dan pengalaman.
Batere-batere kering, yang bekerja berdasarkan prinsip-prinsip galiano dipamerkan di Museum Baghdad. Di
tempat itu juga pengunjung dapat melihat elemen-elemen listrik dengan elektroda-elektroda dan elektrolit yang
tak dikenal.
Di daerah pegunungan Kohistan di Asia, suatu lukisan dalam gua, menggambarkan posisi bintang bintang
yang tepat, seperti keadaannya pada 1.000 tahun yang lalu. Venus dan bumi dihubung kan dengan beberapa
garis.
Perhiasan-perhiasan terbuat dari platina yang dilebur ditemukan di dataran tinggi Peruvia.
Bagian-bagian dari sabuk yang dibuat dari alumunium terdapat di sebuah makam di Fung Yen Cina.
Di Delhi terdapat pilar kuno terbuat dari besi, tetapi tidak rusak oleh phosphat, belerang, atau oleh efek cuaca.
Urutan-urutan aneh dari “kemustahilan “ ini seharusnya membuat kita menjadi penasaran dan gelisah. Dengan
alat dan intuisi apa penghuni gua yang masih primitif itu dapat menggambarkan bintang-bintang dalam
posisinya yang tepat itu? Di bengkel presisi manakah lensa itu di potong? Bagaimana orang pada waktu itu
dapat melebur dan mencetak platina, yang bertitik lebur 1.800º C itu? Dan bagaimana orang-orang Cina kuno
dapat membuat alumunium, sejenis logam yang harus diekstraksikan dari bauxite dengan tek nik kimiawi yang
sangat rumit. Pertanyaan-pertanyaan yang mustahil, tetapi apakah ini berarti bahwa kita tidak perlu
menanyakannya?
Oleh karena kita tidak bersedia untuk menerima atau membenarkan bahwa sebelum teknologi dan
kebudayaan kita sendiri pernah ada teknologi dan kebudayaan yang lebih tinggi dan lebih sempurna, maka
yang tertinggal hanyalah tentang kunjungan dari angkasa luar. Selama arkeologi disalurkan seperti yang telah
dijalankan sampai sekarang, kita tidak akan pernah mendapat kesempatan untuk menemukan apakah masa
lampau kita yang samar-samar itu benar-benar samar ataukah cerah sekali.
Suatu tahun arkeologi utopi telah tiba saatnya di mana para arkeologis, para akhli fisika, para kimiawan, para
geologis, para akhli metalurgi; para akhli dari segala cabang ilmu pengetahuan ini harus memusatkan daya
upaya kepada satu-satunya pertanyaan : “Benarkah nenek moyang kita pernah menerima kunjungan dari
angkasa luar?”. Sebagai contoh misalnya, seorang akhli metalurgi mungkin dapat menerangkan dengan cepat
dan singkat betapa rumitnya memproduksikan alumunium. Apakah tidak masuk di akal bahwa seorang akhli
fisika dapat segera mengenali suatu rumus dalam suatu lukisan pada batu karang? Seorang kimiawan dengan
perkakas-perkakasnya yang sangat sempurna mungkin dapat memperkuat asumsi bahwa tugu dibuat dari
batu karang dengan jalan membasahi seratan-seratan kayu atau menggunakan asam-asam yang tak dikenal.
Para geologis harus menjawab sederetan pertanyaan-pertanyaan tentang hal apa yang penting dari endapanendapan
pada Abad Es. Team bagi tahun arkeologis utopia, selayaknya pula meliputi sekelompok penyelam
yang akan menyelidiki Laut Mati, apakah di dasarnya terdapat bekas-bekas ledakan atom yang radioaktif di
atas Sodom dan Gommorah.
Mengapa perpustakaan tertua itu malah adanya dalam perpustakaan rahasia dunia? Apakah sebenarnya yang
ditakuti orang? Apakah mereka cemas akan kebenaran yang sampai sekarang masih dilindungi dan ditutupi
selama beribu-ribu tahun akhirnya terungkap?
Penelitian dan kemajuan tak akan dapat di tarik mundur. Selama 4.000 tahun orang Mesir menganggap dewa
mereka sebagai makhluk hidup yang sebenarnya. Dalam Abad pertengahan, kita telah memberantas “Sihir”
dari semangat ideologi kita yang menyala-nyala. Kepercayaan orang Yunani bahwa mereka dapat meramalkan
masa depan dari isi perut angsa, sekarang sudah sama kunonya dengan keyakinan dari orang yang
ultrakonservatif bahwa nasionalisme masih mempunyai arti yang paling penting.
Kita harus memperbaiki seribu satu macam kesalahan tentang masa lampau. Keyakinan diri sendiri yang
sudah usang itu, sebenarnya hanyalah suatu penyakit kepala batu yang sudah parah sekali. Di meja
konferensi,para sarjana ortodoks masih diliputi oleh khayalan bahwa sesuatu harus dibuktikan sebelum orang
yang serius dapat atau boleh memperhatikannya.
Di masa lampau siapa saja yang mengajukan suatu pendapat baru yang orisinil pasti menerima hinaan dan
siksaan batin dari gereja dan rekan-rekannya. Orang mengira bahwa sesuatu akan menjadi mudah dengan
sendirinya. Sekarang sudah tidak ada lagi kutukan, dan api pada tiang penyiksa sudah tidak dijalankan. Yang
menjadi halangan sekarang hanyalah tinggal caranya, yakni cara yang tidak spektakuler, sekalipun hampir
tidak begitu menghalangi kemampuan. Sekarang segala sesuatunya sudah agak “beradab” tidak “cerewet”
seperti dulu-dulu. Teori-teori yang terlalu berani dan gagasan yang tak dapat ditolelir, segera dibungkam atau
diberangus oleh ungkapan-ungkapan seperti:
1. Bertentangan dengan peraturan ! (selalu yang baik).
2. Kurang klasik (harus berkesan).
3. Terlalu revolusioner !(tidak ada duanya dalam efek menghambatnya).
4. Universitas-Universitas tak akan sependapat! (bersifat menghukum).
5. Orang lain sudah pernah mencobanya !(tetapi apakah berhasil).
6. Kita dapat melihat manfaatnya ! (justru itulah adanya).
7. Itu belum pernah dibuktikan !(itulah yang justru harus dibuktikan).
Lima ratus tahun yang lalu seorang sarjana berteriak di dalam sidang peradilan: “Hanya orang gila yang
mengatakan bahwa dunia itu mungkin bentuknya bulat. Sebab kalau demikian segala apa yang ada di belahan
bawahnya akan berjatuhan ke dalam ruang kekosongan, kehampaan!”. Sedangkan yang lain memperkuatnya
dengan mengatakan: “Tidak ada disebut dalam Injil, bahwa bumi berputar mengelilingi matahari! Karena itu
setiap ketetapan demikian, pasti perbuatan setan!”.
Agaknya sudah merupakan ciri khas zaman itu, bahwa setiap gagasan baru dihadapi dengan kepicikan. Tetapi
di ambang abad ke duapuluh satu mendatang ini pekerja penelitian harus sudah siap dengan kenyataan,
dengan realitas. Ia harus berkeinginan kuat untuk mengubah hukum dan pengetahuan yang sudah
berabadabad lamanya dianggap sangat keramat. Tetapi oleh pengetahuan baru disangsikan kebenarannya
sekalipun ada sepasukan tentara yang berusaha menggagalkannya.Dunia baru harus ditundukkan demi
kebenaran dan realitas.
Dua puluh tahun yang lalu setiap orang dari kalangan ilmiawan membicarakan satelit, kelihatannya bagaikan
sedang melakukan bunuh diri dalam arti akademis. Sekarang sudah tidak terhitung ba nyaknya satelit buatan
manusia yang mengitari planet-planet lain, mengitari matahari bersama-sama planet alamiah, mendarat di
bulan; memotret planet venus, mars; dan dengan radio mengirimkan potret-potret yang prima ke bumi, tentang
pemandangan yang belum pernah kita lihat sebelumnya. Ketika potret-potret itu dikirim ke bumi dalam tahun
1958, tenaga yang dibuttchkan untuk itu hanyalah 0,000,000,000,000,000,01watt Suatu jumlah yang tak
terkatakan lagi kecilnya.
Sekarang semua itu sudah tidak dianggap luar biasa. Kata “mustahil” sekarang harus secara harafiah mustahil
ada, dengan perkataan lain para sarjana harus tidak mengenal “mustahil”. Setiap orang yang sekarang tidak
mau menerima kenyataan ini besok akan tergilas oleh kenyataan itu sendiri. Oleh karena itu mari kita
berpegang teguh kepada teori yang menetapkan bahwa beribu-ribu tahun yang lalu, bumi kita pernah
dikunjungi oleh astronot-astronot dari planet lain yang jauh sekali.
Kita mengetahui bahwa nenek moyang kita yang dungu dan primitif itu tidak mengetahui apa yang harus
mereka lakukan dengan teknologi yang hebat yang dibawa oleh para astronot itu.Para astronot itu dianggap
“dewa” yang datang dari bintang-bintang lain dan disembahnya. Para astronot itu tak dapat berbuat lain,
kecuali menerima saja dengan sabar pendewaan itu. Para astronot itu di planetnya sendiri barangkali sekalisekali
mau menerima penghormatan yang berupa sanjungan itu.
Sebagian bumi kita masih dihuni oleh orang-orang yang masih primitif yang masih menganggap senapan
mesin sebagai senjata setan. Sedangkan pesawat udara jet sebaliknya. Mungkin mereka anggap sebagai
kendaraan malaikat. Suara yang ke luar dari pesawat penerima radio mungkin dianggapnya suara dewa.
Orang-orang primitif terakhir ini pun akan mewariskan kesan-kesan mereka secara turun-temurun dalam
hikayatnya, tentang kemajuan teknik yang kita sendiri mengganggapnya sebagai sesuatu yang sudah
seharusnya demikian. Mereka masih menggambarkan dewa mereka dan kapal-kapal ajaib yang datang dari
langit dengan corat coret pada batu karang di dinding gua. Dengan cara ini mereka telah menyimpan apa yang
kita capai sekarang. Gambar-gambar dalam gua di Kohistan Perancis, di Sahara dan Peru, di Amerika Utara,
dan Rhodesia Selatan maupun yang di Chili; semuanya membenarkan teori kita.
Henry Lhote seorang sarjana Perancis, menemukan beberapa ribu lukisan dinding dengan cat di Tassili-
Zahara, yaitu mengenai bintang dan orang yang diantaranya ada orang berpakaian indah tetapi pendek. Orang
itu dilukis membawa tongkat yang diujungnya terdapat kotak yang sukar dijelaskan. Berdekatan dengan
gambar bintang-bintang terdapat makhluk yang memakai semacam pakaian menyelam. Makhluk ini yang oleh
Lhote di sebut dewa Mars, tingginya 18 kaki. Kalau semua gambar-gambar itu harus cocok dengan pola
pemikiran kuno, maka orang-orang yang mewariskan gambar-gambar itu kepada kita tidak mungkin
keadaannya seprimitif yang kita duga. Tetapi bagaimana pun juga, untuk membuat gambar setinggi 18 kaki itu
orang pasti telah menggunakan peran cah, sebab tanah di dalam gua itu dalam jutaan tahun terakhir ini tidak
ada tanda-tanda pernah di garuk atau digali.
Tanpa melebih-lebihi khayalan, saya mendapat kesan bahwa dewa Mars itu telah dibuat dengan
menggunakan pakaian menyelam (jadi waktu itu gua dan sekitarnya masih terendam dalam air) atau dengan
menggunakan pakaian terbang. Di pundaknya, dewa Mars itu memikul semacam helm yang dihubungkan
dengan batang tubuhnya oleh semacam penyambung. Pada helm itu terdapat banyak lubang atau celah
seperti lubang hidung atau lubang mulut. Gambar ini memang unik tetapi gambar-gambar yang aneh seperti ini
banyak pula terdapat di Tassili.
Di tempat-tempat lain seperti Amerika Serikat, di Tulare suatu daerah di California, terdapat pula gambargambar
serupa. Saya juga ingin percaya bahwa seniman-seniman primitif itu tidak teram pil dan bahwa hanya
cara itulah yang dapat mereka lakukan dalam menggambarkan makhluk-makhluk atau benda-benda. Tetapi
dalam hal dewa Mars itu bagaimana mungkin bagi penghuni gua yang masih setengah beradab itu untuk
menggambarkan manusia sesempurna itu. Jadi mungkin gambar itu telah dibuat oleh seniman-seniman yang
cukup cakap untuk melukiskan apa yang benar-benar telah mereka lihat, bukan khayalan. Di propinsi Inyo di
California, terdapat gambar suatu bentuk geometris yang menyerupai mistar hitung berangka ganda. Para
arkeologis berpendapat bahwa gambar itu melukiskan angka-angka dari para dewa. Di Siyak, Perancis, pada
jambangan tembikar terdapat gambar binatang yang tak diketahui orang dari jenis apa yang mempunyai
tanduk tegak lurus dan besar sekali. Betapa tidak aneh binatang itu? Ke dua tanduknya mempunyai spiralspiral
yang menuju ke kiri dan kanan. Kalau anda ingin mengetahui bagaimana gambar itu rupanya,
bayangkan saja dua batang logam yang dibungkus dengan isolasi pos lain seperti yang sering kita lihat di
gardu-gardu PLN. Apakah yang dikatakan para arkeologis tentang itu? Dengan mudahnya mereka
mengatakan bahwa gambar itu adalah simbol dari pada dewa.
Dewa-dewa itu tinggi nilainya. Orang lain menerangkan bahwa sebagian besar mungkin segala yang tidak
diketahuinya benar-benar dilakukan dengan cara menghubungkannya dengan yang gaib-gaib saja. Di alam
yang serba gaib ini orang mendapatkan ketentraman batin dan dapat hidup damai. Setiap patung kecil, setiap
benda hasil budaya yang terkumpulkan, setiap benda hasil penyatuan pecahan-pecahan barang purbakala,
selalu mereka hubungkan-hubungkan dengan sesuatu kepercayaan atau sebangsanya. Tetapi kalau ada
sesuatu benda yang tidak cocok dengan ketentuan agama yang ada, sekalipun dengan paksa dicocokcocokkan,
maka disulaplah suatu cara pemujaan orang sinting, seperti halnya tukang sulap menyulap kelinci
dari dalam kayu. Maka terpecahlah persoalannya.
Tetapi bagaimana kalau gambar-gambar dinding di Tassili, atau di Amerika Serikat atau di Perancis benarbenar
mereproduksikan apa yang pernah dilihat orang-orang primitif? Apa yang harus kita ka takan, jika spiral
pada tanduk dewa Mars itu benar-benar menggambarkan antena, tepat seperti apa yang dilihat orang-orang
primitif pada dewa yang tidak dikenalnya? Apakah tidak mungkin bahwa apa yang seharusnya tidak ada,
kenyataannya memang pernah ada?
Jadi, seorang semi beradab yang namun cukup terampil untuk membuat lukisan-lukisan dinding, sebenarnya
tak mungkin setengah beradab.
Gambar dinding yang melukiskan wanita putih di Brandenberg, Afrika Selatan,mungkin gambar dari abad ke
duapuluh ini. Wanita itu bercelana ketat, memakai sarung tangan tali, kaos kaki dan selop. Wanita itu tidak
sendirian, di belakangnya ada seorang lelaki kurus membawa tongkat berduri, ia memakai helm yang berkelap
menadah sinar matahari. Dengan mudah gambar ini dianggap gambar modern, tetapi yang menjadi persoalan
ialah bahwa gambar itu terdapat dalam gua. Semua dewa yang digambarkan pada lukisan dalam gua di
Swedia dan Norwegia berkepala sama dan aneh. Para arkeologis menyebutnva kepala binatang. Tetapi
apakah tidak menggelikan kalau ada umat yang menyembah kepala binatang. Dan apakah tidak menggelikan
kalau ada umat yang me nyembah makhluk yang juga mereka sembelih untuk dimakan? Kita sering melihat
kapal terbang dan lebih sering lagi yang berantena khas.
Patung-patung berpakaian berat terdapat lagi di Val Camonica, Brescia Itali. Patung-patung itu juga bertanduk.
Saya bukan hendak bersikeras menyatakan bahwa para penghuni gua Itali itu bepergian pulang pergi antara
Itali dan Amerika Utara atau Swedia, atau antara Sahara dan Spanyol untuk mengajarkan pembawaan dan
daya cipta mereka. Namun demikian pertanyaan tetap mengiang di telinga : “Mengapa manusia primitif di
berbagai tempat yang berjauhan satu sama lain dan masing-masing bebas dari satu sama lain, membuat
patung-patung yang serupa ; yakni makhluk berpakaian berat dan berantena di kepalanya. Kalau patungpatung
demikian itu hanya terdapat di suatu tempat, saya tidak akan membuang-buang waktu untuk
mempersoalkannya. Tetapi, seperti dikatakan di atas, benda-benda ganjil dan aneh itu terdapat hampir
dimana-mana.
Setelah kita melihat jauh ke belakang ke masa silam kita dengan pandangan zaman sekarang dan
menggunakan fantasi zaman teknologi sekarang untuk mengisi jurang pemisah antara kedua zaman itu, maka
kerudung yang menyelubungi kegelapan mulailah tersingkap.

Erich Von Daniken