Sunday, February 19, 2017

Kegaiban Amerika Selatan dan Keanehan lainnya




Sekalipun telah saya tekankan bahwa bukanlah maksud saya untuk mempertanyakan sejarah umat manusia
selama 2000 tahun terakhir, namun saya mengira bahwa dewa-dewa Yunani dan Romawi serta kebanyakan
tokoh-tokoh lain dalam hikayat dan dongeng juga diliputi oleh suasana masa silam yang sangat jauh. Tradisi
hidup di antara berbagai bangsa, karena adanya umat manusia, kebudayaan yang paling akhirpun juga
memberikan tanda-tanda yang menunjuk ke masa silam yang jauh. Reruntuhan dalam hutan-hutan Guatemala
dan Yukatan dapat di perbandingkan dengan bangunan-bangunan raksasa di Mesir.
Areal tanah di mana piramida Cholula berdiri 60 mil dari ibu kota Mexico sebelah Selatan, luasnya lebih besar
dari pada areal tanah tempat berdirinya piramida Chops.Lapangan piramida di Teotikuacan,25 mil di sebelah
Utara MexicoCity, meliputi areal seluas hampir 8 mil persegi, sedangkan bangunan-bangunannya diluruskan
menurut garis bintang-bintang. Naskah tertua mengenai Teotikuacan menyatakan bahwa para dewa
berkumpul di sini dan membentuk dewan perencana tentang manusia, bahkan sebelum homo sapiens ada.
Kalender orang-orang Maya kalender yang paling tepat di dunia demikian pula rumus Venus, yang telah
disebut di depan sekarang telah dibuktikan bahwa semua bangunan purbakala di Chi chen Ptza, Tikal, Copan
dan Palequa telah didirikan menurut kalender yang mengagumkan itu.Orang Maya mendirikan piramida bukan
karena membutuhkan nya. Mereka mendirikan kuil-kuil bukan karena membutuhkannya. Mereka mendirikan
piramida dan kuil karena kalender mereka menetapkan bahwa sejumlah tertentu anak tangga dari sesuatu
bangunan harus diselesaikan pembuatannya tiap 52 tahun sekali. Tiap batu ada hubungannya dengan
kalender. Setiap bangunan yang telah selesai sesuai benar dengan syarat-syarat astronomis tertentu. Tetapi
sesuatu yang mutlak tidak masuk akal telah terjadi kira-kira tahun 600 setelah masehi. Sekonyong-konyong
tanpa alasan yang nyata seluruh penduduk meninggalkan kota-kota yang telah mereka bangun dengan susah
payah; yang kaya akan kuil-kuil dan piramida yang artistik, taman-taman yang dihiasi dengan patung-patung
dan Stadion-stadion yang sangat mengesankan. Bangunan dan jalan lambat laun tertutup oleh hutan belukar,
pertukangan batu bubar, segala sesuatu hanya tinggal reruntuhan dan padang-padang luas. Tak ada seorang
pendudukpun yang kembali.

Sunday, February 12, 2017

Pulau Easter Tanah Manusia Burung





Pelaut pertama Eropa yang mendarat di pulau Easter pada awal abad ke delapanbelas hampir-hampir tidak
dapat mempercayai penglihatannya sendiri. Di bagian dunia yang kecil ini, 2.350 mil dari pantai Chili, mereka
melihat ratusan patung besar-besar tersebar di seluruh pulau. Gunung yang besar-besar diubah bentuknya,
batu vulkanis yang bagaikan baja dipotong-potong bagaikan memotong mentega layaknya dan 10.000 ton
batu karang besar-besar bertebaran di mana-mana. Ratusan patung besar di antaranya ada yang tinggi nya
antara 33 sampai 66 kaki dan beratnya kurang lebih 50 ton, selamanya menatap muka para pengunjung masa
sekarang, seolah-olah menantang, bagaikan robot yang sedang menanti untuk digerakkan lagi. Semua
raksasa ini memakai topi, tetapi topi-topi inipun tidak banyak membantu menjelaskan dari mana asalnya
patung-patung ini. Batu untuk topi-topi itu yang beratnya ada yang lebih dari sepuluh ton satu balok letaknya
jauh dari bagian badannya. Di samping itu, topi tersebut harus dikerek ke atas setinggi masing-masing patung.
Ketika itu ditemukan juga lembaran-lembaran sejarah dari kayu bertuliskan huruf Mesir Kuno.Tetapi sekarang
tidaklah mungkin untuk menemukan lebih dari fragmen-fragmen lembaran sejarah itu di semua musium di
dunia ini. Dari yang masih ada itu tidak ada satupun yang sudah diterjemahkan. Menurut penyelidikan Thor
Heyerdahl, raksasa-raksasa misterius ini berasal dari tiga zaman. Yang tersempurna dari tiga kebudayaan itu
ialah yang tertua. Heyerdahl menetapkan sisa-sisa orang kayu yang ia temukan berasal dari tahun 400
sesudah masehi. Masih belum dapat dibuktikan sampai sekarang, apakah tempat-tempat perapian dan sisasisa
tulang ada hubungannya dengan patung raksasa itu. Heyerdahl menemukan ratusan patung yang belum
selesai di dekat tebing batu karang dan dekat pinggiran kawah. Ribuan perkakas terbuat dari batu, berserakan
di mana-mana, seolah-oleh pekerjaan telah ditinggalkan secara mendadak.
Pulau Easter letaknya jauh dari benua mana pun, atau dari peradaban apapun. Penduduk aslinya lebih
mengenal bulan dan bintang-bintang dari pada penduduk negara mana pun. Di atas pulau kecil yang berbatubatu
vulkanis ini, tidak tumbuh sebatang pohonpun. Di sinipun sudah tentu keterangan bahwa batu-batu
raksasa diangkut ke sana dengan jalan mendorongnya di atas kayu-kayu gelondongan tidak berlaku. Di
samping itu, pulauEaster ini hampir tak mungkin dapat memberi makan penduduknya yang pada waktu itu di
taksir 2000 jiwa. Sekarang di pulau itu terdapat beberapa ratus orang penduduk. Impor sandang pangan untuk
keperluan tukang-tukang batu di waktu itu hampir tak masuk akal. Kalau begitu siapa yang memotong batu
untuk patung dan siapa yang memahatnya, mengukirnya, dan siapa yang mengangkutnya ke tempat sejauh
bermil-mil tanpa gelondongan? Bagaimana menghiasnya, memolesnya, dan mendirikannya? Bagaimana cara
memasangkan topi yang didatangkan dari berbagai tempat itu? Karena kurangnya tenaga kerja di pulau
Easter, maka sistem “holopis-kuntul baris” yang di praktekkan di Mesir terhadap ratusan ribu tenaga kerja
dalam pembangunan piramida, tak dapat kita bayangkan kemungkinannya. Bahkan 2000 orang yang bekerja
siang dan malam pun, tak akan cukup untuk memahat patung-patung raksasa ini dari batu-batu vulkanis yang
keras bagaikan baja ‘dengan perkakas yang sangat sederhana. Harus diingat pula bahwa sedikitnya sebagian
dari penduduk harus mengolah tanah yang tandus itu, harus mencari ikan, harus menenun pakaian dan
membuat tali. Jadi, patung-patung raksasa itu tak mungkin telah dibuat oleh 2000 orang penduduk pulau itu.
Jumlah penduduk yang lebih besar dari itu, tak masuk akal di pulau Easter. Lalu siapa gerangan yang telah
menyelesaikan pekerjaan itu? Dan bagaimana caranya? Dan mengapa patung-patung itu didirikan di sekitar
pinggiran pulau?. Mengapa bukan di pedalamannya?. Peribadatan apakah yang dilaksanakan orang dengan
patung-patung itu? Sangat disayangkan, bahwa para pembawa kabar injil dari Eropa pun tak dapat membantu
menyingkap tabir kegelapan pulau itu. Mereka telah membakar lembaran sejarah yang bertuliskan huruf-huruf
Mesir Kuno; mereka melarang peribadatan kuno, penyembahan patung-patung itu, dan menghapuskan segala
jenis tradisi. Namun demikian, sebagai orang-orang soleh, mereka tak dapat melarang penduduk asli
menyebut pulau itu “Tanah Manusia Burung”. Sekarang pun pulau itu disebut demikian. Dongeng rakyat yang
diceri terakan dari mulut ke mulut turun-temurun, mengatakan bahwa di zaman purbakala, manusia bersayap
mendarat dan menyalakan api di sana. Dongeng ini diperkuat oleh patung-patung makhluk terbang bermata
besar dan menatap. Mau tak mau kita akan menghubung-hubungkan pulau Easter ini dengan Tiahuanaco. Di
Tiahuanaco seperti juga halnya di Easter terdapat patung raksasa batu yang stylenya sama. Baik di
Tiahuanaco maupun di Easter, patung-patung itu berwajah angkuh tetapi sabar. Ketika Francisco Piqarro
mewawancarai orang-orang Inca tentang Tiahuanaco dalam tahun 1532, mereka mengatakan, tiada
seorangpun pernah melihat keamanan. Kota itu porak-poranda karena Tiahuanaco di bangun di waktu malam
dalam sejarah umat manusia. Pulau Easter dalam hikayat-hikayat disebut “pusat dari dunia”. Jarak antara
Tiahuanaco dan pulau Easter ialah 3.125 mil. Bagaimana mungkin kebudayaan Tiahuanaco mengilhami
kebudayaan pulau Easter atau sebaliknya ? Barangkali mitologi pra Inca dapat memberikan petunjuk-petunjuk.
Menurut mitologi ini, dewa pencipta bernama Viracocha, adalah seorang dewa utama purbakala. Menurut
hikayat, Viracocha menciptakan makhluk dunia ketika dunia ini belum mempu nyai matahari masih gelap gulita.
Ia mencipta dan memahat suatu ras raksasa dari batu, dan kare na raksasaraksasa ini mengecewakan
Viracocha, maka ditenggelamkannya semua raksasa itu ke dalam suatu air bah yang dalam. Kemudian ia
terbitkan matahari dan bulan di atas Danau Titicaca, sehingga dunia menjadi terang benderang, ya, kemudian
bacalah ini dengan teliti: Ia membentuk manusia dan binatang dari tanah liat di Tiahuanaco dan memberinya
nyawa. Kemudian ia mengajar makhluk-makhluk hidup ciptaannya ini; bahasa, adat istiadat, dan kesenian.
Akhirnya ia terbangkan sebagian di antaranya ke berbagai benua, yang ia harapkan untuk dihuni oleh
makhluk- makhluk hidup itu. Setelah itu dewa Viracocha disertai dua orang pembantunya mengadakan
kunjungan ke berbagai negara untuk mencek apakah instruksi-instruksinya dilaksanakan dan bagaimana
hasilnya.
Dengan menyamar sebagai orang tua, Viracocha berkelana di atas pegunungan Andes sepanjang pantai, di
mana ia sering tidak disambut dengan baik. Suatu waktu di Cacha, ia demikian kecewa terhadap penyambutan
dirinya sehingga ia marah dan membakar suatu tebing batu karang, dan tak lama kemudian membakar seluruh
negeri. Kemudian orang-orang yang tak mengenal rasa syukur memohon pengampunannya.Viracocha
menerima dan memadamkan api itu hanya dengan satu gerak isyarat. Viracocha meneruskan
perjalanannya,memberikan instruksi-instruksi,dan nase hat-nasehat. Sebagai hasil dari kunjungan dan
instruksinya itu, banyak kuil yang didirikan baginya. Akhirnya di pantai profinsi Manta ia mengucapkan selamat
tinggal dan menghilang dengan mengendarai gelombang-gelombang di atas samudra, tetapi bermaksud akan
kembali lagi suatu waktu.
Para pemenang perang dari Spanyol, yang menaklukkan Amerika Tengah dan Selatan mendengar hikayat
Viracocha itu di setiap daerah yang ditaklukkannya di mana sebelumnya mereka tak pernah mendengar
ceritera tentang orang-orang kulit putih bertubuh raksasa yang datang dari suatu tempat di udara. Cukup
mengherankan, mereka belajar mengenal suatu ras keturunan matahari yang mengajar segala jenis seni
kepada umat manusia dan kemudian lenyap kembali. Dalam segala hikayat yang pernah didengar orang-orang
Spanyol, ada kepastian bahwa putera-putera matahari ini akan datang kembali. Sekalipun benua Amerika itu
tempat kebudayaan purbakala, namun pengetahuan kita ten tang Amerika hanya sampai 1000 tahun ke
belakang. Bagi kita masih tetap merupakan suatu rahasia, mengapa pada tahun 3000 sebelum masehi orangorang
Inca menanam kapas di Peru, padahal mereka tidak mempunyai perkakas tenun dan tidak mengetahui
teknik bertenun. Orang Maya membuat jalan, tetapi tidak pernah menggunakan kendaraan beroda sekalipun
mereka mengetahui bagaimana membuatnya. Kalung lima untai dari permata hijau yang fantastis itu, yang
terdapat dalam piramida pusara dari Tikal di Guatemala itu pun merupakan sesuatu yang ajaib. Disebut ajaib
karena permatanya berasal dari negeri Cina. Patung-patung dari Olmec pun luar biasa. Patung-patung yang
kepalanya berhelm indah itu, hanya dapat di kagumi di tempat mana dia ditemukan; karena beratnya luar
biasa, tak akan ada satu jembatan pun yang dapat menahannya dalam pengangkutan patung itu ke salah satu
musium. Kita hanya dapat mengangkat monolit-monolit kecil yang beratnya hanya lima puluh ton atau kurang,
itupun harus dengan alat-alat angkat dan angkutan yang paling mutakhir. Alat-alat teknik yang kita miliki
sekarang ini akan berantakan bila digunakan untuk mengangkat dan mengangkut muatan yang beratnya
ratusan ton seperti patung-patung itu. Tetapi nenek-moyang kita dapat mengangkut dan mengukir batu-batu
itu. Bagaimana ya? Malah nampaknya seolah-olah orang purbakala itu gemar sekali menyulap patung raksasa
itu melintasi bukit dan lembah. Orang-orang Mesir purbakala mengambil batu tugunya dari Aswan, para arsitek
dari Stonehenge mengambil balok-balok batunya dari Wales dan Malborough, tukang batu dari pulau Easter
mengambil batu untuk patung-patung raksasanya dari tambang galian yang jauh dari tempatnya sekarang.
Tiada seorang pun sekarang mengetahui dari mana asalnya sebagian dari monolit-monolit di Tiahuanaco.
Nenek moyang kita itu tentunya orang-orang aneh. Mereka senang sekali membuat barang-barang yang bagi
mereka sendiri sukar. Mereka selalu mendirikan patung di tempat-tempat yang paling sulit baginya. Apakah
mereka menyukai kehidupan yang berat? Saya tidak percaya bahwa para artis dari masa silam kita pernah
berbuat sebodoh itu. Sebenarnya mereka dapat dengan mudah mendirikan patung dan kuil-kuil itu di dekat
tambang galian batunya, jika tradisi kuno tidak mengharuskan mendirikannya di tempat yang patut untuk itu.
Juga saya yakin bahwa benteng orang-orang Inca di Sacsakuaman yang dibangun di atas Cuqqo, tidak
secara kebetulan, melainkan karena tradisi mereka menentukan bahwa tempat itu merupakan tempat suci.
Saya juga yakin bahwa di tempat mana ditemukan bangunan monumen yang paling kuno, di sana akan
terdapat peninggalan peninggalan paling menarik dan paling penting; belum terjamah, ada di bawah tanah;
yakni peninggalan yang mungkin penting sekali bagi kelanjutan perkembangan dalam bidang penerbangan
ruang angkasa masa kini. Angkasawan-angkasawan yang tak di kenal itu pasti berpandangan lebih jauh
daripada kita sekarang. Mereka yakin bahwa pada suatu waktu orang akan terbang menuju alam semesta atas
inisitatifnya sendiri dan menggunakan kemahirannya sendiri. Adalah suatu fakta sejarah yang sudah diketahui
umum, bahwa para cendekiawan kita selalu mencari orang-orang yang mempunyai perhatian yang sama,
mencari rekan sesama cendekiawan di dalam kosmos. Pemancar-pemancar masa kini sudah mulai
mengirimkan pulsa-pulsa radio pertama kepada cendekiawan yang belum kita kenal. Kita masih belum
mengetahui kapan kita mendapat jawaban; sepuluh, limabelas atau serutus tahun lagi. Bahkan kita tidak
mengetahui ke bintang mana harus kita tujukan pesan kita itu, karena kita tidak mengetahui planet mana yang
paling banyak menaruh perhatian kepada kita. Di manakah isyarat-isyarat kita itu akan diterima oleh
cendekiawan yang serupa dengan manusia? Kita tidak tahu, Namun demikian banyak hal yang memperkuat
dugaan kita bahwa informasi yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan kita ada di bumi kita sendiri. Kita sedang
berusaha sekuat tenaga untuk menetralisir daya gravitasi. Kita sedang membuat eksperimen dengan partikelpartikel
elementer dan Antimatter. Apakah kita telah cukup banyak berbuat untuk menemukan data yang
terpendam dalam bu mi kita, sehingga kita akhirnya dapat menentukan tanah asal kita ? Kalau kita perhatikan
segala sesuatu itu dengan sungguh-sungguh, banyak hal yang dulu sulit cocoknya dengan mosaik masa
lampau kita itu; sekarang malah menjadi masuk akal. Bukan saja petunjuk-petunjuk yang relevan dalam
naskah-naskah purbakala, melainkan juga “fakta-fakta kuat” yang terdapat di seluruh pelosok bumi membuka
dirinya terhadap pandangan kritis. Akhirnya, kita mempunyai alasan untuk berpendapat demikian. Oleh karena
itu, wawasan manusia itu akhirnya menyadari bahwa dasar kebenaran eksistensinya sampai sekarang dan
segala perjuangannya untuk maju benar-benar harus belajar dari masa silam supaya ia dapat menyiapkan diri
untuk mengadakan hubungan dengan eksistensi di ruang angkasa. Sekali hal itu terjadi, maka individualis
yang paling cerdik dan paling tangguh harus mengerti bahwa segenap tugas umat manusia itu ialah me
nempati alam semesta, dan segenap tugas rokhaniah manusia terletak dalam pengabdian dari seluruh
usahanya dan pengalaman praktisnya. Dengan demikian, janji para “dewa” bahwa damai di bumi dan bahwa
jalan ke sorga terbulka, dapat menjadi kenyataan. Apabila wewenang kekuasaan dan intelek yang ada
diabdikan kepada penyelidikan ruang angkasa, maka hasil-hasilnya akan membuat kemustahilan perang di
bumi menjadi terang. Apabila semua ras, semua orang, semua bangsa bersatu dalam tugas supranasional,
yakni untuk membuat perjalanan ke planet-planet yang jauh menjadi teknis yang dapat dilaksanakan, maka
bumi ini dengan segala problema-problema mininya akan kembali ke dalam hubungannya yang benar dengan
proses-proses kosmis. Para akhli ilmu gaib boleh mematikan lampu gaibnya, para alkemi boleh
menghancurkan cawan-cawannya, perhimpunan-perhimpunan persaudaraan rahasia boleh mencopot topitopinya.
Sekarang sudah tidak mungkin lagi untuk mengibuli orang-orang yang sudah bertahun-tahun
dibohongi Sekali alam semesta membuka pintunya, kita akan mendapat masa depan yang lebih baik. Saya
mendasarkan alasan saya untuk meragukan interpretasi tentang masa silam kita yang jauh pada pengetahuan
yang telah ada sekarang. Jika saya mengakui bahwa saya skeptis atau ragu-ragu, maka yang saya
maksudkan dengan kata skeptis itu ialah seperti yang diartikan oleh Thomas Mawn dalam ceramahnya pada
tahun dua puluhan: “Hal yang positif tentang skeptis ialah, bahwa ia menganggap segala