Sunday, February 5, 2017

Khayalan dan Dongeng Kuno atau Realitas ?




Sebagaimana telah saya lihat sebelumnya, dalam kepurbakalaan terdapat hal-hal yang kalau menurut gagasan
sekarang tak perlu ada. Tetapi kegiatan saya untuk mengumpulkannya sama sekali tidak turut habis bersamasama
dengan habisnya penemuan-penemuan yang telah terkumpulkan. Mengapa? Karena mitologi orangorang
Ekskimo-pun mengatakan bahwa bangsa pengembara pertama dibawa ke Utara oleh para “dewa” yang
bersayap kuningan. Hikayat orang-orang Indian menyebut seekor burung guntur memperkenalkan api dan
buah-buahan kepada mereka. Dongeng orang Mayan-Popol Nuh, menyatakan bahwa para “dewa” mampu
mengenali segala macam hal alam semesta, keempat arah pokok dari kompas,dan bahkan bentuk bulat dari
bumi.
Mengapa orang-orang Ekskimo berbicara tentang burung logam? Mengapa orang-orang Indian menyebut
burung guntur? Bagaimana kiranya para nenek moyang orang Maya mengetahui bahwa bumi itu bulat ?
Orang maya itu cerdas-cerdas dan mempunyai kebudayaan yang sudah maju.
Mereka bukan hanya meninggalkan kalender yang menakjubkan, melainkan juga teori-teori berhitung yang
luar biasa. Mereka mengetahui hitungan tahun Venus yang berumur 584 hari dan memperkirakan tahun bumi
berumur 365.2420 hari yang menurut perhitungan sebenarnya sekarang: 365 2422 hari. Semua itu mereka
tinggalkan, untuk dapat dipergunakan selama 64.000.000. tahun. Tulisan-tulisan kuno berikutnya menyangkut
satuan-satuan yang mungkin mendekati 400.000.000 tahun. Rumus Venusi yang terkenal itu mungkin telah
dihitung dengan otak elektronik. Bagaimanapun sukar untuk dipercaya bahwa rumus itu berasal dari orang
pedalaman. Rumus Venus dari orang Maya itu jalannya sebagai berikut: Tahun Tzolkin mempunyai 260 hari,
tahun bumi 365 hari, sedangkan tahun Venus 584 hari. Bilangan-bilangan ini menyembunyikan kemungkinan
pembagian bilangan 365 dapat dibagi habiskan oleh 73 dan hasil baginya 5. Sedangkan 584 adalah 8 x 73.
Maka rumus yang luar biasa itu bentuk nya sebagai berikut:
(bulan) 20 x 13 = 260 x 2 x 73 = 37.960
(matahari) 8 x 13 = 104 x 5 x 73 = 37.960
(venus) 5 x 13 = 65 x 8 x 73 = 37.960
Dengan perkataan lain semua siklus bertepatan kembali satu sama lain setelah 37.960 hari. Mitologi orangorang
Maya menyatakan bahwa pada saat itu para “dewa” akan sampai di tempat istirahat besar.
Dongeng-dongeng keagamaan dari orang pra Inca mengatakan bahwa bintang-bintangpun mempunyai
penghuni dan bahwa para “dewa” turun datang kepada mereka dari konstelasi Pleiades. Tulisan kuno di
Sumeria, Assyria, Babilonia, dan Mesir terus-menerus menyajikan gambaran yang sama; yakni bahwa para
dewa datang dari dan pulang ke bintang-bintang, mereka bepergian menjelajahi langit dengan kendaraan api
atau kapal yang menyerupai senjata mengerikan; menjanjikan kekekalan kepada pria.
Adalah wajar dan alamiah bagi orang-orang purbakala kalau mereka mencari Tuhan mereka di langit dan
dalam melukiskan kebesaran Tuhan itu mereka mengkhayal secara bebas. Namun kalau semuanya itu kita
terima dengan baik, masih saja ada hal-hal yang aneh; misalnya saja bagaimana penutur ceritera Mahabarata
tahu bahwa ada senjata yang dapat digunakan untuk menimbulkan kekeringan di suatu negara musuh selama
dua belas tahun? Dan cukup ampuh untuk membunuh bayi yang belum lahir ? Dalam sanjak kepahlawanan
India purbakala, Mahabarata ini lebih luas isinya daripada Injil. Inti aslinya, Mahabarata itu secara konservatif
saja ditaksir sudah berumur 5.000 tahun. Mahabarata ini bermanfaat juga kalau di baca dalam rangka ilmu
pengetahuan masa kini.
Kita tidak akan terlalu terkejut kalau kita membaca dalam Ramayana bahwa ada vimana, yakni pesawat
terbang yang diterbangkan tinggi sekali dengan bantuan air raksa dan angin buritan yang kencang. Vimana itu
dapat terbang jauh sekali dan dapat terbang maju ke atas dan ke bawah. Pendeknya suatu kendaraan ruang
angkasa yang dapat digunakan dalam gerakan-gerakan atau manuver militer. Berikut ini sekelumit dari
terjemahan Ramayana oleh N. Dult dalam tahun 1891: “ Di bawah komando Rama, kereta perang yang hebat
itu membumbung ke atas menuju gunung awan dengan guruh yang dahsyat, “ Tak dapat tidak, kita harus
mencatat bahwa di sini bukan hanya ada di sebut benda terbang, melainkan juga disebut guruh yang dahsyat.
Berikut ini adalah sekelumit lagi dari Mahabarata. “Bima terbang dengan vimana ini, yang memancarkan
cahaya banyak sekali, menyilaukan seperti cahaya matahari dan membuat deru yang mengerikan seperti
guntur dalam badai”.
Khayalan pun tentu harus mempunyai landasan titik tolak. Bagaimana penutur ceritera Mahabarata membuat
lukisan tentang pesawat itu terbang di atas pancaran cahaya dan menyebabkan deru yang mengerikan kalau
sebelumnya tidak pernah mempunyai bayangan tentang roket ? Dalam Samsaptakabadha diadakan
pembedaan antara kereta perang yang dapat terbang dan tidak. Jilid pertama dari Mahabarata
mengungkapkan dengan mendalam sekali tentang riwayat gadis Kunti yang bukan hanya mendapat
kunjungan dewa matahari, tetapi juga mendapat seorang putra dari padanya yang diduga sama cemerlangnya
dan menyilaukan seperti matahari itu sendiri. Karena Kunti takut mendapat malu, bayi itu dimasukkannya ke
dalam keranjang kecil dan meletakkannya dalam sungai. Adhirata seorang kenamaan, mengangkat keranjang
berisi bavi itu dari sungai. kemudian memelihara dan membesarkan bayi itu.
Ceritera itu sebenarnya tak ada gunanya di ceriterakan lagi andaikata tidak ada kesamaannya dengan ceritera
tentang Musa. Yaitu karena ceritera ini merupakan satu hal lagi di mana manusia dihamili oleh dewa. Sama
halnya dengan Gilgamesh, Arjuna, pahlawan Mahabarata juga mengadakan perjalanan jauh untuk menemui
para dewa untuk minta senjata. Setelah melampaui berbagai bahaya akhirnya Arjuna berhasil menemui para
dewa. Dewa Indera, raja di Khayangan berkenan menerima Arjuna dengan kebesaran luar biasa. Raja
didampingi permaisuri Sachi. Arjuna yang gagah berani ini tidak diterima di tempat lain oleh Indera dan Sachi
ini melainkan dalam kereta perang sorga. Bahkan Arjuna diajak mengendarai nya bersama mereka di
angkasa.
Beberapa data berupa angka dalam Mahabarata itu demikian telitinya sehingga orang menduga bahwa
penulisnya menulis kisah itu dengan bahan-bahan dari tangan pertama. Uraiannya tentang senjata yang dapat
membunuh setiap lawan yang memakai perisai terkuat dari logam, membuat bulu roma kita merinding. Lawan
yang telah mengetahui efek dari senjata ini tepat pada waktunya, segera menanggalkan segala peralatan yang
terbuat dari logam dari badannya lalu menceburkan diri ke dalam sungai dengan mencuci badannya serta
membersihkan segala apa yang pernah menempel di badannya dengan cermat. Dan pantaslah jika penulis
Mahabarata menerangkan bahwa senjata itu dapat menyebabkan rambut rontok dan kuku tanggal. Setiap
mahluk hidup menjadi pucat dan lemah. Dalam jilid ke delapan kita temui Indera dalam kereta perang sorganya
lagi. Dari segenap umat manusia hanya Yudhistira yang dipilihnya sebagai satu-satunya yang boleh memasuki
khayangan dalam tubuhnya yang fana itu. Di sini pun kesesuaian dengan ceritera tentang Nuh dan Elia tidak
dapat kita lewati begitu saja.
Dalam buku itu juga dilaporkan bahwa Gurkha telah melepaskan sebuah proyektil dari dalam vimana
diarahkan ke kota besar. Ini mungkin merupakan laporan pertama dari pelemparan bom hidrogen. Uraian itu
mengingatkan kita kepada laporan pandangan mata tentang ledakan bom hidrogen di pulau Bikini; asap putih
yang sangat panas mengepul membumbung ke atas bercahaya, dengan kekuatan seribu kali lebih
menyilaukan dari sinar matahari, dan membuat kota menjadi debu. Ketika Gurkha mendapat lagi,
kendaraannya menyerupai balok antimony yang berkilauan.
Demi kepentingan para filsuf perlu saya sebut di sini bahwa menurut Mahabarata, waktu adalah benih dari
alam semesta.
Buku-buku Tantyua dan Kantyua dari Tibet juga menyebut-nyebut adanya pesawat terbang pra sejarah, yang
mereka sebut “mutiara di angkasa”. Kedua buku itu menekankan dengan tegas bahwa pengetahuan tentang
ini adalah rahasia, tidak boleh disiarkan dengan sembarangan. Dalam Sumarangana dan Sutradhara,
beberapa bab penuh semata-mata disediakan untuk menguraikan kapal udara yang dari ekornya
menyemburkan api dan air raksa.
Kata “api” dalam naskah-naskah kuno tidak berarti api yang menyala, karena di dalamnya terdapat empat
puluh macam api yang berbeda-beda, yang terutama ada hubungannya dengan phenomena esoteric dan
magnetis. Memang sukar untuk mempercayai laporan bahwa manusia purbakala mungkin telah mengetahui
tentang kemungkinan bisa didapatnya energi dari logam-logam berat dan bagaimana cara mendapatkannya.
Tetapi kita tidak boleh memperkecil arti naskah sanskrit kuno menjadi ceritera isapan jempol belaka. Sebagian
besar dari ceritera dalam naskah sanskrit itu, mengubah kecurigaan kita terhadap laporan bahwa manusia
menjumpai “dewa” terbang suatu hal yang pasti telah terjadi.
Kita tidak akan melanjutkan cara pendekatan yang disesalkan masih melekat kepada para cendikiawan yang
masih mengatakan: “Itu tidak ada, itu kesalahan terjemahan, itu fantasi yang dibesar-besarkan oleh pengarang
atau pengutip “. Kita harus menggunakan hipotesa kerja yang dikembangkan dari ilmu teknologi zaman
sekarang,
untuk menerangi kegelapan yang menyembunyikan masa lampau kita. Seperti halnya dengan phenomena
tentang kapal ruang angkasa yang dapat dijelaskan, demikian pula halnya dengan senjata-senjata yang
mengerikan yang sering dilukiskan sebagai pernah digunakan sekurang-kurangnya satu kali oleh para dewa,
terdapat penjelasan yang masuk akal.
Berdasarkan suatu bagian dari Mahabarata kita terpaksa membuat hipotesa sebagai berikut: “Ketika itu hawa
bagaikan dilepas dari kekangan matahari berputar. Dibakar oleh panas yang memijar dari senjata itu, dunia
terhuyung-huyung dan menggigil ketakutan. Gajah-gajah terbakar oleh panas dan berlarian ke sana ke mari,
kacau balau mencari perlindungan dari bencana yang mengerikan. Air mendidih, binatang-binatang pada mati,
musuh disapu bersih dan arnukan api menyebabkan pohon-pohon terbakar lalu tumbang dalam deretan
deretan bagaikan dalam kebakaran hutan, gajah-gajah menjerit-jerit ketakutan kemudian roboh mati
berserakan di atas daerah luas. Kuda-kuda dan kereta-kereta perang terbakar. Pemandangan waktu itu
bagaikan aksi dari suatu kebakaran. Beribu-ribu kereta perang habis terbakar. Kemudian kesunyian merembet
ke laut. Angin mulai bertiup dan bumipun segar dan cemerlang kembali, waktu itu merupakan pemandangan
yang mengerikan. Bangkai orang-orang yang terbakar sudah tidak lagi berupa sosok-sosok tubuh manusia.
Sebelumnya, tak pernah kita melihat atau mendengar tentang senjata yang begitu mengerikan”. Ceritera itu
selanjutnya menyebut bahwa orang-orang yang selamat; membersihkan badannya, perkakasnya, senjatanya
dengan air, karena terhembus oleh tiupan nafas yang mematikan dari para “dewa”.
Nah, apa yang dikatakan dalam sanjak kepah lawanan Gilgamesh ? Apakah nafas beracun dari binatang buas
sorga itu menghantamnya? Alberto Tulli dulu pengurus Museum Nafikan bagian sejarah Mesir. Pernah
menemukan program dari naskah yang berasal dari zaman Thutmose III, yang pernah hidup kira-kira di tahun
1500 sebelum masehi. Dalam naskah itu disebut bahwa para penulisnya pernah melihat sebuah bola api turun
dari sorga, bola itu baunya tak sedap, bagaikan bau setan. Thutmose dan prajurit-prajuritnya memperhatikan
bola api itu sampai menghilang ke jurusan Selatan.
Semua naskah-naskah berasal dari jutaan tahun sebelum zaman kita ini. Para penulisnya bertempat tinggal di
berbagai benua dan berasal dari peradaban serta penganut agama yang berlainan satu sama lain. Pada waktu
itu tidak ada utusan utusan khusus untuk menyebarkan berita, sedangkan hubungan.antara benua bukanlah
kejadian sehari-hari. Sekalipun demikian, ceritera rakyat dari mulut ke mulut menceriterakan ceritera-ceritera
yang hampir bersamaan satu sama lain yang berasal dari keempat penjuru dunia dan dari berbagai sumber.
Apakah mereka mempunyai bahan pemikiran yang sama? Apakah mereka dihantui oleh kejadian yang sama?
Apakah tidak mungkin dan tidak masuk akal kalau para penutur dari: Mahabarata, Injil, sanjak kepahlawanan
Gilgamesh, naskah Ekskimo, India, Amerika, Skandinavia, Tibet dan lain lain; menceriterakan ceritera yang
sama? Yakni ceritera tentang “dewa-dewa” terbang? Tentang kereta perang dari sorga dan tentang
malapetaka yang diakibatkannya? Apakah kesamaan itu hanya secara kebetulan saja dan tanpa dasar sama
sekali?
Mereka tak mungkin mempunyai gagasan yang sama di seluruh dunia. Naskahnaskah yang hampir seragam
itu hanya dapat bersumber dari sumber yang sama yakni kejadian-kejadian pra sejarah. Naskah-naskah itu
ada hubungannya dengan apa yang dapat dilihat di masa itu. Sekalipun andaikata para penuturnya
membesar-besarkan dan menambah-nambah serta memperhalusnya dengan fantasinya sendiri, seperti halnya
dengan apa yang sering terjadi sekarang; namun inti kebenarannya tetap ada, sama seperti halnya dengan inti
kebenaran dari berita-berita dalam koran zaman sekarang. Kejadian-kejadian itu tak mungkin dikarang begitu
saja secara bersamaan dalam abad yang berbeda-beda.
Mari kita buat satu permisalan: Sebuah helikopter untuk pertama kalinya mendarat di sebuah padang semak di
Afrika. Sebelumnya tidak seorang pun di antara para penduduk di sana yang pernah melihat pesawat
semacam itu. Helikopter itu mendarat di atas tanah terbuka dengan suara yang menakutkan. pilotnya yang
bertopi baja, berpakaian siap tempur, bersenjata api, melompat ke luar pesawat. Penduduk yang setengah
biadab yang bercawat itu terpesona dan sama sekali tidak dapat memahami kehadiran benda yang aneh ini,
yang datang dari sorga bersama “dewa”nya. Tak lama kemudian helikopter itu lepas landas lagi dan
menghilang ke dalam awan. Setelah itu, si penduduk yang setengah beradab itu mulai memikirkan dan
menafsirkan kejadian yang sekonyong-konyong itu. Ia akan menceriterakan kepada yang lain-lain, tentang apa
yang pernah dilihatnya itu; mungkin sebagai burung raksasa, mungkin sebagai kendaraan dari sorga yang
bersuara menderu dan menakutkan serta berbau busuk, yang ditumpangi makhluk makhluk berkulit putih
dengan senjata yang dapat meludahkan api.
Kunjungan ajaib itu dijadikan suatu ceritera yang melembaga dan diwariskan turun-temurun sepanjang zaman.
Dalam ceriteranya dari seorang ayah kepada anaknya, burung raksasa dari sorga itu jelas tidak akan menjadi
lebih kecil, bahkan sebaliknya menjadi lebih besar, karena ceritera itu ditambah-tambah, dibesar-besarkan;
demikian juga tentang makhluk yang ke luar dari dalamnya ceritera ke ceritera menjadi tambah perkasa,
tambah ajaib, tambah mengagumkan. Hiasan dan bumbu-bumbu ini akan terus bertambah dari ceritera ke
ceritera. Tetapi dasar pikirannya ialah pendaratan helikopter yang benar-benar telah terjadi itu. Helikopter itu
benar-benar telah mendarat di tanah terbuka dalam hutan, demikian juga pilotnya benar-benar telah ke luar
dari dalamnya. Sejak saat itu kejadian itu diabadikan menjadi mitologi dari suku bangsa yang telah melihatnya
itu.
Ada hal-hal yang tak dapat kita buat-buat. Saya tidak akan membuat pra sejarah kita menjadi ceritera-ceritera
tentang wisatawan-wisatawan angkasa dan pesawat terbang dari sorga, kalau kejadian-kejadian itu hanya
terdapat dalam beberapa kalangan buku purbakala saja. Tetapi kalau kenyataaannya hampir semua naskah
purbakala dari orang-orang primitif di seluruh dunia menceriterakan ceritera yang sama, saya kira, saya harus
mencoba menjelaskan mulai dari sejarah yang obyektif yang tersembunyi di dalamnya. “Putera manusia,
engkau penghuni di tengah-tengah rumah pemberontak, yang mempunyai mata untuk melihat, tetapi tidak
melihat, mempunyai telinga untuk mendengar tetapi tidak mendengar.... (Ezekiel 12: 2).
Kita ketahui bahwa para dewa orang-orang Sumeria mempunyai partner di beberapa bintang. Diduga bahwa
pernah ada patung Marduk Mars, dewa tertinggi dari segala dewa yang beratnya 800 talen emas murni. Kalau
kita percaya akan Herodotus, patungnya seharga 48.000 pon emas lebih. Ninurta sirius, adalah hakim alam
semesta yang menjatuhkan hukuman kepada semua manusia yang fana.
Ada beberapa tulisan khusus mengenai Mars, sirius dan pleiades. Masa dan sekali lagi hymne-hymne Sumeria
menyebut-nyebut adanya senjata hebat, yang bentuk dan akibatnya sama sekali tak ada artinya bagi rakyat di
masa itu. Suatu lukisan pujian terhadap dewa Mars mengatakan bahwa dewa itu telah menciptakan hujan api
dan menyapu semua lawan-lawannya dengan kilatan-kilatan cahaya petir. Dewi Inanna dilukiskan, ketika ia
sedang menjelajahi ruang angkasa telah menyapu bersih kubu-kubu lautannya dengan jalan memancarkan
cahaya yang menyilaukan dan menakutkan.
Telah ditemukan pula gambar-gambar dan model-model rumah yang menyerupai bunker atom yang bagianbagiannya
hanya tinggal pasang saja; berbentuk bundar dan kuat dengan lubang yang berangka aneh. Pula
dari zaman yang sama yakni 3000 tahun sebelum masehi, Para arkeologis telah menemukan suatu model dari
rombongan kereta perang beserta pengendara-pengendaranya, dan juga beberapa olahragawan pegulat.
Semuanya dikerjakan dengan keahlian yang murni. orang-orang Sumeria itu memang telah terbukti sangat
mahir dalam seni praktis. Mengapa mereka membuat model dari bunker yang aneh itu, padahal penggalianpenggalian
di Babilon atau Uruk menunjukkan hasil karya yang lebih halus?
Baru-baru ini telah ditemukan suatu perpustakaan Sumeria yang lengkap, terdiri dari kira-kira 60.000 lembaran
sejarah dari tanah liat. Perpustakaan itu ditemukan di kota Nippur, 95 mil sebelah selatan dari Baghdad. Kita
sekarang telah memiliki risalah tertua dari banjir besar itu. Risalah ini diukirkan pada lembaran sejarah terbuat
dari tanah liat dan terdiri dari enam kolom. Pada lembaran sejarah itu disebut lima buah kota yang sangat tua:
yakni, Eridu, Badtibira, Larek, Sitpar dan Shuruppak. Dua di antara kota-kota ini belum ditemukan. Pada
lembaran sejarah ini yang tertua yang telah diterjemahkan “Nuh,” dari orang-orang Sumeria disebut Ziusudra.
Ia diduga telah bertempat tinggal di Shuruppak dan diduga pula bahwa ia telah membuat kapal bahteranya di
sana.
Dengan demikian kita sekarang telah memiliki uraian yang lebih tua tentang banjir besar itu, bahkan lebih tua
dari sanjak Kepahlawanan Gilgamesh. Tiada seorangpun yang mengatakan apakah penemuan baru nanti
akan menghasilkan risalah risalah yang lebih tua dari itu. Manusia-manusia dari peradaban kuno itu bagaikan
terus-menerus dihantui oleh pikiran tentang sifat-sifat kebakaan atau kelahiran manusia kembali. Pelayan dan
budak secara sukarela berbaring di samping majikannya dalam pusarannya.
Dalam ruang pusara di Shub-At terdapat ti dak kurang dari tujuh puluh tulang kerangka ma nusia terbaring
berderet secara teratur sekali, tan pa tandatanda pernah adanya kekerasan sedikit pun. Para pelayan
berpakaian jubah berwarna indah, duduk atau berbaring dengan sabar menanti kedatangan maut, yang pasti
akan datang dengan cepat dan tanpa rasa sakit,mungkin dengan racun. Dengan penuh keyakinan mereka
menginginkan ke hidupan baru di luar kubur bersamasama majikan nya. Tetapi siapakah yang menanamkan
gagasan tentang kelahiran kembali ini ke dalam benak orang penyembah berhala ini ?
Kuil di Mesir juga membingungkan. Naskah naskah purbakala dari rakyat di lembah sungai Nil, berceritera
tentang makhluk makhluk hebat yang menjelajahi cakrawala dengan kapal. Suatu naskah sejarah kuno
tentang dewa matahari berbunyi: “Engkau kawin di bawah bintangbintang dan bu lan, engkau menghela kapal
dari Aten di sorga dan di bumi bagaikan bintangbintang yang berputar tak jemujemunya, dan bagaikan bintang
di Kutub Utara yang tak pernah terbenam”. Suatu prasas ti pada suatu piramida berbunyi: “Engkau adalah
yang mengarahkan kapal matahari selama jutaan tahun”.
Sekalipun misalnya orang-orang Mesir kuno itu adalah akhli-akhli matematika yang telah maju, masih tetap
janggal kedengarannya kalau mereka berbicara tentang jutaan tahun yang dihubungkan dengan bintangbintang
dan kapal dari sorga. Apa kah yang dikatakan oleh Mahabarata ? “Waktu adalah benih dari Alam
Semesta”.
Di Memphiss dewa Ptah mengajukan kepada raja dua mode cara merayakan ulang tahun tahta kerajaan dan
memerintahkan kepada raja supaya merayakan ulang tahun itu enam kali dalam seratus ribu tahun. Ketika
dewa Ptah datang untuk menyerahkan model itu, ia datang mengendarai kereta perang dari sorga yang
gemerlapan dan kemudian menghilang ke dalam cakrawala bersama kendaraannya.
Gambar-gambar tentang matahari bersayap dan burung elang untuk berburu, yang membawa simbol-simbol
keabadian dan kehidupan abadi, sekarang masih terdapat pada pintupintu dan kuil kuil di Idfu. Di dunia ini di
manapun tak terdapat tempat yang banyak sekali memiliki garnbaran-gambaran dewa bersayap ini selain di
Mesir. Setiap wisatawan mengetahui Pulau Elephantine dengan Nilometernya yang terkenal itu di Aswan.
Pulau itu disebut pulau Elephantine, karena kelihatannya seperti gajah. Dalam naskah-naskah tertuapun pulau
itu sudah disebut demikian. Naskah itu tepat, karena pulau itu memang benar menyerupai gajah. Tetapi dari
mana orang Mewsir purbakala itu tahu. Bentuk gajah itu hanya akan dapat jelas dilihat dari kapal udara yang
terbang tinggi sekali, karena di dekat pulau itu tidak terdapat gunung yang memungkinkan untuk melihat dari
atasnya sehingga orang dapat membandingkan bentuk pulau itu dengan bentuk gajah.
Suatu prasasti pada suatu bangunan di Idfu mengatakan bahwa bangunan itu berasal dari zaman gaib.
Rancangan dasarnya dibuat oleh IsnHotep, makhluk yang didewakan. IsnHotep ini adalah seorang yang
misterius dan sangat pandai, boleh dikatakan Einstein di zaman itu. Ia adalah sekaligus pendeta, penulis, tabib,
arsitek dan filsuf. Menurut para arkeologis, di zaman IsnHotep satu-satunya jenis perkakas yang digunakan
rakyat ialah potongan-potongan dari tembaga yang sama sekali tidak mungkin dapat dipakai untuk memotong
dan mengukir balok granit. Namun demikian IsnHotep telah mendirikan sebuah piramida bertangga bagi
rajanya di Sakkara yang disebut Zoser Bangunan yang tingginya 197 kaki ini telah dibangun dengan arsitektur
yang begitu tinggi sehingga para arsitek Mesir dari zaman berikutnya tak dapat menyamainya. Konstruksi ini
dikelilingi oleh tembok setinggi 33 kaki dan sepanjang 1.750 kaki, dan disebut Rumah Bake. Yang dibuat oleh
InsHotep. Ia sendiri minta dimakamkan dalam bangunan ini, dengan harapan agar dibangunkan oleh para
dewa bila mereka datang kembali.
Kita ketahui bahwa semua piramida dibangun pada letak yang disesuaikan dengan posisi bintang tertentu.
Apakah hal ini tidak memalukan, jika diingat bahwa kita tidak pernah banyak menemukan bukti-bukti tentang
kemajuan astronot di Mesir ? Sirius adalah satu di antara beberapa bintang yang menjadi perhatian mereka.
Tetapi perhatian yang bersahaja inipun agak aneh, karena dilihat dari Memphis, bintang sirius ini hanya dapat
di amati pada dini hari. Pada saat itu sirius tepat berada di atas ufuk di mana sungai Nil mulai pasang. Yang
lebih membingungkan lagi ialah di Mesir terdapat kalender dari 4221 tahun sebelum tarikh kita. Kalender ini
didasarkan kepada terbitnya bintang sirius itu (tanggal satu Taut = tanggal 19 Juli) dan memberikan perputaran
tahun, lebih dari 32.000 tahun.
Diakui bahwa para astronom kuno dari tahun ke tahun mempunyai banyak waktu untuk mengamati matahari,
bulan, bintang-bintang, sampai akhirnya mereka menentukan bahwa bintang-bintang itu kembali ke tempat
semula setelah kurang lebih 365 hari. Tetapi memang agak menggelikan mendasarkan kalender pada bintang
sirius, kalau mendasarkannya pada matahari dan bulan memang lebih mudah, dan dapat memberikan hasil
hasil yang lebih tepat. Mungkin kalender sirius ini adalah suatu sistem tambahan, suatu teori kemungkinan
karena kalender itu tak pernah dapat dipakai untuk meramalkan terbitnya bintang itu sendiri. Jadi kalau bintang
sirius muncul di atas ufuk pada fajar menyingsing dan bertepatan dengan mulainya pasang sungai Nil, itu
semata-mata kebetulan belaka. Sungai Nil tidak pasang setiap tahun dan tidak pernah pada hari yang sama.
Lalu apa dan untuk apa kalender sirius ? Apakah mengenai hal ini terdapat pula risalahnya ? Apakah ada
naskah atau suatu janji yang disembunyikan dengan sangat hati-hati oleh kependitaan?.
Kuburan di mana terdapat kalung dan tulang, kerangka binatang, yang sama sekali tidak dikenal, barangkali
milik raja Udimu. Dari mana asalnya binatang itu? Bagaimana kita dapat menjelaskan fakta bahwa orang-orang
Mesir telah menggunakan bilangan desimal berbaris sepuluh sejak awal dinasti pertama? Bagaimana
munculnya peradaban yang begitu tinggi di zaman sedini itu ? Di manakah di dunia ini muncul zaman tembaga
dan zaman perunggu sedini seperti munculnya zaman itu di awal peradaban Mesir ? Siapakah yang
memberikan pengetahuan pada mereka tentang matematika dan bacaan-bacaan yang telah siap untuk
dipelajari?.
Sebelum membicarakan bangunan monumen yang menimbulkan banyak pertanyaan, mari kita mengarahkan
pandangan dulu sepintas lalu kepada naskah lama.
Dari manakah para pembawa ceritera Seribu Satu Malam mendapatkan gagasan yang mengagetkan itu?
Bagaimana orang dapat mengarang ceritera tentang lampu ajaib itu ? Khayalan apakah yang memberanikan
diri penulis untuk mengarang Ali Baba dan empatpuluh pencuri dengan ceri tera katakata sandinya: “Sesam
bukalah?”.
Sekarang, semua itu memang mengherankan lagi bagi kita, karena dengan memutar saklar pesawat televisi, di
layarnya segera muncul gambar-gambar yang dapat berbicara. Dan karena sekarang sudah banyak toserba
besar-besar yang pintunya dapat terbuka sendiri dengan menggunakan photocel, maka perkataan “Sesam
bukalah !” sudah bukan lagi suatu misteri. Namun demikian daya khayal para penutur ceritera zaman dahulu
kala itu begitu luar biasa, sehingga kalau dibandingkan, buku-buku tentang khayalan ilmiah karangan para
penulis kontemporer hanyalah merupakan buah pikiran yang dangkal belaka. Jika demikian halnya, para
penutur ceritera purbakala itu pasti te lah melihat, mengalami, dan mengetahui banyak hal yang dapat
menduduki khayalan mereka.
Dalam dunia dongengan dan yang menyerupai hikayat dari kebudayaan yang serba abstrak, yang tidak dapat
memberikan pegangan kita seolah-olah berdiri di atas landasan yang goyah, sehingga segala sesuatu itu
tambah membingungkan. Sebenarnya ceritera-ceritera rakyat di Polandia dan Norwegia kuno pun ada
menyebut-nyebut “dewa” yang bergerak di udara.
Dewi Frigg mempunyai pembantu perempuan bernama Gna. Dewi itu mengutus pembantunya ke segala
penjuru dunia, dengan mengendarai kuda yang dapat terbang di atas daratan dan lautan. Kuda itu dinamai”
Pelempar Kuku-kuda”. Pada suatu hari, demikian tutur hikayat itu, Gna bertemu dengan makhluk-makhluk
aneh di udara. Dalam Alwislied bumi, matahari, bulan dan alam semesta, diberi nama yang berbeda-beda;
tergantung kepada yang melihatnya, apakah manusia, “para-dewa” raksasa, atau manusia kerdil. Bagaimana
orang bumi ini di masa silam yang samar-samar itu sampai kepada persepsi yang berbeda-beda tentang
sesuatu yang sama ketika cakrawala sangat terbatas ?.
Sekalipun sarjana Snarri Sturlison sampai tahun 1200 setelah Masehi tidak menuliskan dongeng hikayat dan
nyanyian Nordic, dan Jerman kuno, namun semua itu diketahui telah berumur ribuan tahun.Dalam tulisantulisan
ini, simbol dunia sering digambarkan sebagai piringan atau bola, cukup menarik bukan? Sedangkan
Thor sebagai pimpinan para dewa, selalu digambarkan membawa palu perusak. Herbert Kuhn menyokong
pendapat bahwa kata “palu” yang berarti “batu” berasal dari zaman batu, dan baru diteruskan ke zaman
perunggu dan besi. Oleh karena itu Thor dengan simbol palunya pasti sudah sangat tua dan mungkin ber asal
dari zaman batu. Selain dari itu kata “Thor” dalam dongeng-dongeng India dalam sangkrit, disebut “Tanayitnu”,
yang kurang lebih berarti “Guntur”
Thor kaum Nordic, yakni dewanya para dewa; adalah raja dari Wannen dalam bahasa Jerman, yang membuat
langit tidak aman.
Dalam memperdebatkan aspek-aspek baru yang saya kemukakan untuk menyelidiki masa silam, keberatannya
ialah bahwa tidaklah mungkin mengumpulkan segala sesuatu dari tradisi-tradisi purbakala yang dapat memberi
petunjuk tentang peristiwa-peristiwa khayangan dan menjadikannya sebagai bukti dari adanya wisata ruang
angkasa di zaman purbakala. Tetapi yang saya lakukan bukanlah itu. Saya hanya menunjukkan bagian-bagian
dari naskah-naskah Purbakala yang tidak mendapat tempat dalam hipotesa kerja yang dipergunakan sampai
sekarang. Saya hanya sekedar membuat lubang pada tempat-tempat yang diakui sulit, di mana para penulis,
para penterjemah, para penyadur, tidak mempunyai bayangan tentang pengetahuan-pengetahuan dan
produk-produknya. Saya juga bersedia untuk menganggap terjemahan-terjemahan itu salah dan saduransadurannya
kurang cermat, kalau tradisitradisi yang palsu dan telah ditambah-tambah itu secara keseluruhan ti
dak diterima setelah tradisi itu dapat dimasukkan ke dalam rangka sesuatu agama atau hal lainnya.
Tidaklah baik bagi seorang penyelidik ilmiah untuk mengingkari sesuatu yang bertentangan de ngan hipotesa
kerjanya, dan hanya menerimanya kalau sesuatu itu mendukung teorinya. Bayangkanlah bentuk dari teori saya
itu dari kekuatan yang dicapainya, jika terjemahan-terjemahan baru yang dibuat dengan “pandangan ke ruang
angkasa” itu benar-benar ada! Untuk memperkokoh rangkaian thesis ini, dapat saya kemukakan di sini bahwa
dekat Laut Mati telah ditemukan fragmen-fragmen dari naskah-naskah pewahyuan dan peribadatan.
Dalam kitab-kitab apokripa tentang Abraham dan Musa, sekali lagi kita mendengar tentang kereta perang
sorga dengan roda-rodanya yang memantulkan api, sedangkan dalam buku tentang Henokh di Etiopia dan di
Slavia, hal itu tidak terdapat. Dalam buku tersebut diungkapkan: “Di belakang makhluk itu saya melihat sebuah
kereta perang yang mempunyai roda-roda dari api dan setiap roda di sekelilingnya penuh dengan mata, dan
pada roda-roda itu ada sebuah mahkota yang tertutup dengan api yang ke luar dari sekelilingnya”
Menurut penjelasan dari Gershom Scholem, simbolisme mahkota dan kereta perang dari mistik-mistik Yahudi
pada garis besarnya sesuai dengan simbolisme mistik-mistik Helenistis dan mistik Kristen terdahulu, manakala
mistik-mistik ini berbicara tentang lautan cahaya yang disebut “pleroma”
Penjelasan itu patut dihargai, tetapi apakah dapat diterima sebagai telah dibuktikan secara ilmiah ? Bolehkah
kita bertanya, bagaimana halnya kalau ada beberapa orang yang benar-benar telah melihat kereta perang yang
menyala-nyala, yang berulang-ulang dilukiskan itu? Suatu prasasti rahasia amat sering dipergunakan dalam
surat surat Qumran.
Di. antara dokumen-dokumen dalam gua ke empat, bermacam-macam tanda dan huruf terdapat silih berganti
dalam suatu karya astrologi yang sama. Suatu pengamatan astronomi diberi judul “Kata-kata dari seseorang
yang bijaksana yang di tujukannya kepada segenap putra dari fajar”.
Apakah tidak mungkin bahwa kereta perang yang dilukiskan dalam naskah-naskah purbakala itu benar-benar
pernah ada? Sudah tentu boleh sekali untuk menentukan bahwa kereta perang tak mungkin pernah ada di
zaman purbakala. Tetapi jawaban demikian sama sekali tidak ada harganya kalau datangnya dari orang yang
saya coba untuk mencari pilihan lain dengan pertanyaan-pertanyaan saya ltu.
Akhir-akhir ini para sarjana terkemuka mengatakan, bahwa tak mungkin ada batu meteor jatuh dari langit,
karena di sana tidak ada batu. Bahkan para akhli matematika abad ke sembilan belas pun pernah
berkesimpulan bahwa kereta rel tak mungkin dapat berjalan dengan kecepatan lebih dari 21 mil per jam
karena dengan kecepatan demikian, udara dalam kereta akan habis tertekan ke luar, sehingga para
penumpangnya akan mati lemas. Kurang dari seratus tahun yang lalu, telah “dibuktikan” bahwa benda yang
lebih berat dari udara tak mungkin dapat terbang.
Suatu ulasan dalam suatu surat kabar terkemuka menggolongkan buku “Kita Tidak Sendirian” karangan
Walter Sullivan, ke dalam buku-buku khayalan ilmiah dan selanjutnya mengatakan bahwa kapanpun tidak
mungkin orang dapat mencapai bintang epsilon eridani atau Tauceti; bahkan efek dari pergeseran waktu atau
rintangan pembekuan pada astronaut karena dingin, pun tak akan dapat diatasi dalam jarak yang tak masuk
akal jauhnya itu.
Ada baiknya juga bahwa di masa silam selalu terdapat pengkhayal-pengkhayal yang berani, yang melupakan
kritik-kritik kontemporer. Tanpa adanya mereka barangkali sekarang tak akan pernah ada jaringan rel dengan
kereta berkecepatan 124 mil lebih per jam.
Tanpa adanya mereka, sekarang tak akan pernah ada pesawat udara jet, sebab pesawat itu tak akan dapat
terbang (karena lebih berat dari udara). Dan tak akan pernah ada roket ke bulan (manusia tak dapat
meninggalkan bumi). Masih banyak lagi hal-hal yang tak mungkin, kecuali bagi para pengkhayal.
Sejumlah sarjana ada yang senang berpegang teguh pada apa yang disebut kenyataan. Dengan cara
demikian mereka lupa bahwa apa yang sekarang menjadi kenyataan mungkin kemarin masih merupakan
impian dari seorang pengkhayal. Banyak sekali penemuan yang membuka zaman baru; yang zaman sekarang
kita anggap kenyataan, sebenarnya hanya karena kebetulan saja, bukan karena hasil penyelidikan yang
mantap dan sistematis. Sebagian di antaranya adalah berkat adanya para “Pengkhayal yang serius” yang telah
berhasil mengatasi segala prasangka penghambat terhadap spekulasi-spekulasi mereka yang berani itu.
Sebagai contoh, karena Heinrich Schliemann mengang gap “Odyssey” karangan Homer tidak hanya sebagai
cerita dan dongeng belaka, melainkan lebih dari itu, ia berhasil menemukan Tray suatu kota di Asia Kecil
kurang lebih pada tahun 1200 sebelum masehi.
Pengetahuan kita tentang masa lampau masih terlalu sedikit untuk digunakan dalam menilai masa silam itu
sendiri. Penemuan-penemuan baru dapat memecahkan misteri-misteri yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Bacaan tentang keterangan-keterangan mengenai purbakala, dapat menjungkir-balikkan dunia realitas.
Secara sambil lalu, nyata bagi saya bahwa sebenarnya dari buku-buku kuno lebih banyak yang musnah dari
pada terpelihara. Menurut dugaan bahwa di Amerika Selatan pernah ada sebuah buku yang berisi segala
kearifan purba kala; diduga bahwa buku itu dimusnahkan oleh Penguasa suku Inca Keenampuluh tiga
Panchacuti IV.
Di Alexandria pernah terdapat perpustakaan milik Ptolemy Soter terdiri dari 500.000 buku, berisi adat istiadat
umat manusia; perpustakaan ini sebagian dimusnahkan oleh orang-orang Romawi dan sisanya dibakar habis
atas perintah Khalifah Umar bin Khottob, beberapa ratus tahun kemudian.
Bagaimana jadinya perpustakaan kuil di Darussalam? Bagaimana jadinya perpustakaan Pergaman yang
diduga berisi 200.000 judul itu ? Kekayaan ilmu pengetahuan dan rahasia-rahasia apakah yang turut hilang
bersama buku-buku tentang astronomi, filosofi dan sejarah yang dimusnahkan dalam tahun 214 sebelum
masehi, atas perintah Kaisar Chi Huang dari Cina ? Berapa banyak naskah yang dimusnahkan sebagai akibat
dari perpindahan agama dari Paulus di Ephesus ? Bahkan kita tidak dapat membayangkan berapa banyak
kekayaan kepustakaan, tentang berbagai cabang ilmu pengetahuan yang telah musnah se bagai akibat dari
fanatisme agama. Berapa ribu tulisan-tulisan yang tak dapat diperoleh kembali, yang telah dibakar musnah
oleh para rahib dan para utusan keagamaan di Amerika Selatan, dalam semangat kegamaan mereka yang
membuta?
Semua itu telah terjadi ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu. Apakah umat manusia telah mendapat
pelajaran dari kejadian-kejadian itu?
Hanya setengah abad yang lalu, Hitler membakar musnah banyak sekali buku; dan baru-baru ini, tahun 1966
hal semacam itu terjadi lagi di Cina ketika Mao Che Tung melancarkan revolusi kebudayaan atau revolusi
taman kanak-kanak. Untunglah, sekarang bukubuku dicetak tidak hanya satu buah seperti dahulu kala.
Naskah-naskah dan fragmen yang masih ada, dapat mengalihkan pengetahuan dari masa silam. Hampir
sepanjang masa para arif bijaksanawan dari sesuatu bangsa mengetahui, bahwa masa depan itu selalu
membawa perang dan revolusi pertumpahan darah serta kobaran api. Apakah hal ini menyebabkan para arif
bijaksanawan menyelamatkan rahasia dan tradisi dari pemusnahan oleh massa orang banyak dengan
menyimpannya dalam bangunan-bangunan yang aman? Apakah mereka telah “menyembunyikan” informasi
atau istilah dalam piramida-piramida, kuil-kuil, dan patung-patung atau mewariskannya dalam bentuk huruf
atau tulisan, sehingga dapat bertahan terhadap keganasan waktu ? Sudah tentu harus kita uji gagasan ini
demi masa depan kita, karena gagasan-gagasan yang sezaman dengan kita, telah berbuat demikian juga.
Dalam tahun 1965 orang-orang Amerika di New York mengubur dua kapsul waktu dalam tanah sedemikian
rupa, sehingga dapat tahan terhadap kemungkinan-kemungkinan bencana alam selama 5000 tahun. Kapsul
waktu ini berisi berita yang ingin kita sampaikan kepada anak cucu keturunan kita, sehingga pada suatu hari
kelak, mereka yang ingin memerangi kegelapan yang meliputi masa silam dari nenek moyang mereka, akan
dapat mengetahui cara bagaimana kita hidup sekarang.
Kapsul-kapsul ini dibuat dari logam yang lebih keras dari pada baja; ini akan tahan terhadap ledakan atom.
Selain dari berita sehari-hari, kapsul-kapsul ini, pula berisi potret tentang kota-kota, kapal-kapal, mobil-mobil,
pesawat udara, dan roket; terdapat pula di dalamnya, contoh-contoh logam dan plastik, tekstil, benang dan
pakaian; juga mewariskan benda-benda dari kehidupan sehari-hari seperti; uang logam, perkakas kecil, alatalat
kecantikan; buku-buku tentang; matematika, obat-obatan, pengetahuan alam dalam bentuk microfilm.
Untuk melengkapinya demi kepentingan ras yang akan datang yang belum kita ketahui siapa, kapsul-kapsul ini
diisi pula dengan “kunci”, yakni suatu buku petunjuk tentang cara bagaimana menterjemahkan segala tulisan
yang terdapat di dalamnya ke dalam bahasa yang akan datang. Cara penerusan informasi kepada keturunan
kita dalam bentuk kapsul ini adalah gagasan dari sekelompok insinyur dari perusahaan Westinghouse Electric.
Sedangkan sistem penterjemahannya ke dalam bahasa generasi-generasi mendatang yang tidak diketahui,
adalah ciptaan John Harrington.
Sinting ? Pengkhayal ? Saya sendiri berpendapat bahwa pelaksanaan proyek ini adalah menguntungkan dan
meyakinkan. Sungguh menyenangkan, mengetahui bahwa sekarang terdapat orang orang yang berpikir jauh
5.000 tahun ke muka !
Para arkeologis masa mendatang yang dekat sekalipun tidak akan mendapatkan segala sesuatu yang
bertalian dengan masa silam mereka semudah kita sekarang, karena setelah kabakaran akibat dari ledakanledakan
atom; tak ada suatu perpustakaan pun di dunia ini yang akan berguna lagi dan segala yang telah kita
capai dan menjadi kebanggaan kita, tak akan bernilai sepeserpun karena semuanya telah lenyap, telah hancur
luluh, telah diatomisasikan. Untuk membenarkan gagasan orang-orang Arnerika di New York itu, tidak
diperlukan suatu kebakaran akibat ledakan atom yang memorakporandakan dunia. Pergeseran sumbu bumi
beberapa derajat saja, akan menyebabkan banjir besar yang tak tertahankan dan belum pernah terjadi
sebelumnya, akan memusnahkan setiap kota yang ada.
Adakah orang yang begitu sombong menuduh bahwa para arif bijaksanawan dahulu kala tidak memikirkan
suatu tindakan seperti yang telah dilakukan oleh penduduk New York itu ?
Tak dapat diragukan lagi bahwa para akhli strategi perang bom Atom atau bom Hidrogen tidak akan
membidikkan senjata-senjata mereka ke perkampungan rakyat Zulu atau rakyat Eskimo yang tidak berbahaya
itu. Mereka akan menggunakan senjatanya untuk menghantam pusat-pusat kebudayaan. Dengan perkataan
lain kekacauan akibat radio aktivitas akan menimpa rakyat yang paling maju kebudayaannya. Orang-orang
primitif dan setengah beradab yang jauh dari pusat ke budayaan akan disisakan dari pemusnahan. Mereka ini
tak akan mampu meneruskan kebudayaan kita atau sekalipun hanya memberikan risalahnya, karena mereka
tidak ikut serta dalam kebudayaan itu. Bahkan para cendikiawan dan para pengkhayal yang mencoba
memelihara perpustakaan di bawah tanah tak akan mampu berbuat banyak bagi masa mendatang.
Perpustakaan-perpustaakaan akan musnah, dan rakyat primitif yang selamat tidak akan mengetahui banyak
tentang perpustakaan rahasia yang tersembunyi ini.
Daerah-daerah luas akan menjadi padang kering dan panas, karena radio aktivitas yang berjalan ratusan
tahun menyebabkan tiada sebatang tumbuhanpun yang dapat tumbuh di atasnya. orang-orang yang selamat
barangkali akan mengungsi dan selama 2000 tahun tak akan ada yang menghuni kota-kota yang dihancurkan
itu. Kekuatan alam akan menelan perjalanannya melalui reruntuhan-reruntuhan; besi dan baja akan berkarat
dan remuk menjadi debu. Dan segala sesuatu akan mulai dari permulaan! Manusia dapat menjalani
petualangan untuk kedua kalinya atau ketiga kalinya. Barang kali lagi ia akan membutuhkan waktu sekian
lamanya untuk menjadi makhluk beradab, sehingga rahasia-rahasia tentang tradisi dan naskah-naskah lama
tertutup baginya. Lima ribu tahun kemudian setelah malapetaka, para arkeologis dapat menyatakan bahwa
manusia abad kedua puluh belum mengenal besi. Ini dapat dimengerti karena mereka tidak akan menemukan
nya sepotongpun, bagaimanapun cara mereka mencari dan menggali.
Sepanjang perbatasan Rusia, mereka akan menemukan perangkap tank yang bermilmil panjang nya, yang
terbuat dari beton. Mereka mungkin akan menerangkan bahwa penemuan itu tak ayal lagi, menunjukkan garisgaris
astronomi. Kalau mereka menemukan tape atau cassette recorder lengkap dengan pitanya, mungkin
mereka tidak akan mengetahui apa yang harus diperbuat dengan benda-benda itu. Bahkan mereka tidak akan
dapat membedakan tape yang sudah disetel dari yang belum. Padahal barangkali tape itu mengandung
pemecahan banyak persoalan. Naskah-naskah mengenai kota-kota raksasa dengan gedung-gedungnya yang
menjulang tinggi mungkin tak akan dihiraukan karena kota-kota semacam itu dianggap tak mungkin pernah
ada. Para sarjananya mungkin akan menganggap terowongan jalan kereta di bawah tanah di London sebagai
barang aneh yang ada hubungannya dengan geometri, atau suatu sistem pengeringan tanah yang telah
dirancang dengan matang.
Mereka mungkin terus sampai kepada risalah risalah tentang manusia terbang dari satu benua ke benua
lainnya dengan burung-burung raksasa, yang disebut sebagai kapal-kapal yang menyembur kan api dan dapat
menghilang masuk ke dalam awan. Itupun akan dianggap sebagai dongengan belaka, karena burung raksasa
semacam itu tak mungkin pernah ada. Semua itu akan menjadi lebih sulit bagi para penterjemah dalam tahun
7000.
Kenyataan tentang perang dunia dalam abad ke duapuluh, yang mungkin dapat mereka ketahui dari kutipan
naskah, oleh mereka akan dianggap tak masuk akal. Tetapi kalau mereka mendapatkan naskah-naskah pidato
Marx dan Lenin, mereka akhirnya akan mampu mengangkat dua orang pendeta agung pada abad yang tak
dimengerti ini sebagai pusat keagamaan abad itu. Untunglah !
Orang mungkin akan dapat menerangkan banyak, asal saja petunjuk untuk itu ada dan cukup pada mereka.
Lima ribu tahun bukan merupakan waktu sedikit. Kalau ada suatu balok kayu yang dihiasi dapat bertahan 5000
tahun, itu semata-mata perubahan alam yang luar biasa. Sedangkan balok besi yang paling tebalpun tak akan
tahan sekian lama.
Di halaman sebuah kuil di Delhi, sebagaimana telah saya sebut terdapat suatu pilar terbuat dari bagian-bagian
besi yang dilas. Pilar ini telah berdiri selama 4000 tahun, terbuka bagi segala pengaruh cuaca, namun
samasekali tidak ada tandatanda berkarat. Selain itu, pilar itu tidak terpengaruh oleh belerang dan phospor. Di
sini kita berurusan dengan suatu jenis logam campuran yang hingga sekarang sama sekali asing bagi kita.
Pilar itu barangkali dibuat oleh sekelompok insinyur yang berpandangan jauh ke muka dan tidak mempunyai
cukup bahan untuk membuat bangunan raksasa, tetapi ingin mewariskan kebudayaan mereka kepada
keturunannya; yaitu melalui monumen yang tak dapat dimakan oleh usia itu.
Adalah suatu hal yang memalukan, di mana walau dengan teknik paling mutakhir masa sekarang ini pun
bangunan dari kebudayaan masa si lam yang telah maju itu tak dapat kita jiplak.
Tumpukan-tumpukan batu itu masih tetap ada di sana, tak dapat disingkirkan. Karena apa yang seharusnya
tidak perlu ada, tentu tidak dapat ada. Orang sedang mencari penjelasan yang “rasional”. Mari kita lepas kain
penutup mata kita dan turut mencari penjelasan itu.
KEAJAIBAN PURBAKALA ATAU PUSAT WISATA RUANG ANGKASA?
Dari kota Damaskus ke Utara, di sana terdapat suatu teras yang disebut “Baalbek”; yakni suatu podium atau
panggung yang terdiri dari balok-balok batu, di antaranya ada yang panjang nya 65 kaki dan beratnya 2.000
ton. Sampai se karang para arkeologis belum dapat menjelaskan secara meyakinkan; mengapa, bagaimana,
dan oleh siapa teras Baalbek itu dibangun. Tetapi seorang Profesor Rusia yang bernama Agrett, menduga
teras itu adalah sisa-sisa dari landasan lapangan udara raksasa.
Berdasarkan pengetahuan yang kita peroleh dari para akhli tentang Mesir, Mesir purbakala muncul di depan
kita secara mendadak, lengkap dengan peradabannya yang sudah siap tanpa masa transisi. Kota-kota besar
dengan kuil besar-besar, patung-patung raksasa yang gagah perkasa, jalan-jalan indah diapit oleh arca-arca
besar, sistem pengeringan yang sempurna, pusara-pusara mewah yang dipahat dari batu karang, piramidapiramida
raksasa dan lain-lain yang aneh; seolah olah muncul begitu saja dari dalam tanah; merupakan
keajaiban asli yang sekonyong-konyong telah mencapai puncaknya tanpa diketahui sejarahnya .
Tanah pertanian yang subur hanya terdapat di Delta Nil dan pada tepi kanan kiri sungai itu, yang menurut
taksiran para akhli jumlah penduduknya pada waktu piramida besar sedang didirikan adalah sekitar
50.000.000. orang. Suatu jumlah yang secara menyolok kontradiksi dengan jumlah penduduk dunia pada
tahun 3000 sebelum masehi, yang ditaksir hanya 20.000.000 orang. Dalam penaksiran yang begitu besar,
selisih satu atau dua juta, kurang atau lebih tidak menjadi soal. Tetapi satu hal yang sudah jelas, mereka harus
diberi makan. Di sana bukan hanya terdapat rombongan pekerja konstruksi, tukang batu, akhli teknik, dan
pelaut; bukan hanya ratusan ribu budak belian, melainkan juga tentara yang bersenjata lengkap, sejumlah
pendeta yang disanjung-sanjung, para pedagang, petani, dan pegawai sipil; dan tidak kalah pentingnya
dengan yang lain, ialah kehidupan mewah dari Firaun beserta ke luarganya. Dapatkah mereka hidup dari hasil
pertanian yang hanya sedikit dari Delta Nil itu ?
Seharusnya orang mengatakan.kepada saya, bahwa balok-balok batu yang diperlukan untuk membangun kuil
itu didatangkan ke sana dengan jalan mendorongnya di atas gelondongan kayu. Tetapi orang-orang Mesir tak
akan pernah menebangi pohon yang jumlahnva hanya sedikit itu, untuk dijadikan kayu gelondongan. Karena
pohon-pohon di sana umumnya adalah pohon korma yang buahnya diperlukan untuk pangan, sedangkan
pohon dan daunnya adalah satu-satunya peneduh untuk melindungi tanah dari kekeringan. Tetapi dari
pernyataan di atas tentu mereka harus pernah memiliki kayu gelondongan, sebab jika tidak maka tidak akan
didapat penjelasan teknik sekalipun yang selemahlemahnya tentang pembangunan piramida-piramida itu.
Apakah kayu untuk keperluan itu diimpornya? Untuk mengimpor kayu diperlukan armada kapal pengangkut
yang cukup besar. Setelah kayu itu dibongkar di pelabuhan Alexandria, masih perlu diangkut lagi melalui
sungai Nil ke Kairo. Oleh karena Mesir pada waktu membangun piramida besar tidak mempunyai kuda dan
gerobak, maka tak ada kemungkinan lain. Gerobak dan kuda tak dikenal orang di Mesir sampai dinasti ke
tujuh belas kira-kira tahun 1600 sebelum masehi. Jadi masalahnya sekarang ialah penjelasan yang
meyakinkan tentang pengangkutan balok batu itu. Para sarjana tentu akan mengatakan bahwa gelondongangelondongan
kayu memang dibutuhkan.
Banyak sekali persoalan yang ada hubungannya dengan teknologi pembangunan piramida itu, tetapi
penyelesaiannya belum ada yang tepat.
Bagaimana caranya orang-orang Mesir memahat pusara dari batu karang? Sumber dan dana apakah yang
mereka miliki untuk membangun gedung gedung kesenian dan ruangan-ruangan besar ?
Dindingnya licin-licin dan hampir semuanya dihiasi dengan gambar-gambar relief. Lubang-lubang terowongan
melandai ke bawah menuju lantai yang berbatu karang. Mereka telah membuat anak tangga menuju ke kamar
mayat jauh di bawah, dengan seni yang paling tinggi. Para wisatawan mengaguminya, tetapi tiada seorangpun
di antara mereka yang mendapatkan penjelasan tentang cara penggaliannya. Namun dapat dipastikan bahwa
orang-orang Mesir itu sejak dahulu kala adalah akhli dalam pembuatan terowongan, karena pusara-pusara
yang dipahat dari satu balok karang yang dibuatnya sebelumnya persis sama dengan yang paling akhir. Tidak
ada beda antara pusara Tety dari dinasti keenam dengan pusara Ramses I dari Kerajaan Baru, sekalipun
terdapat tenggang waktu sedikit-dikitnya 1000 tahun di antara kedua pembuatannya. Jelas sekali bahwa orang
orang Mesir tidak memerlukan sesuatu yang baru terhadap teknik lama mereka.
Bangunan-bangunan yang lebih baru, sebenarnya merupakan jiplakan yang kurang sempurna dari modelmodel
terdahulu.
Wisatawan yang mengunjungi piramida Cheops di sebelah barat Kairo dengan naik unta yang biasanya
dipanggil Wellington atau Napoleon, akan diliputi perasaan aneh, seperti perasaan yang biasanya ditimbulkan
oleh peninggalan masa silam yang misterius. Penunjuk jalan akan mengatakan bahwa seorang Firaun telah
membuat pekuburan di sini. Setelah memotret beberapa obyek, si wisatawan pulang dengan membawa sedikit
keterangan ilmiah itu. Piramida Cheops ini telah menginspirasikan beratusratus teori yang lemah dan gila.
Dalam buku “Pusaka kita dalam Piramida Besar” karya Charles Piazzi Smith, berisi 600 halaman, diterbitkan
dalam tahun 1864; kita dapat membaca banyak hubungan antara piramida dan bumi kita, yang
memerindingkan bulu roma. Namun demikian, kalau diselidiki secara kritis, buku itu masih mengandung faktafakta
yang memancing celaan.
Sudah diketahui umum bahwa orang-orang Mesir purbakala menganut agama matahari. Dewa Matahari
mereka “Ra,” menjelajahi langit dengan kendaraan yang mengeluarkan letusan-letusan api. Naskah-naskah
tentang piramida dari kerajaan kuno pun melukiskan wisatawisata sorga yang dilakukan oleh raja, yang
sebenarnya dengan bantuan para dewa dan kapal mereka. Jadi para dewa dan para raja di Mesir semuanya
telah terlibat dalam penerbangan.
Apakah benar-benar hanya kebetulan saja bahwa bila tinggi piramida Cheops diperbanyak dengan seribu juta,
akan menjadi 98.000.000 mil kira-kira sesuai dengan jarak antara matahari dan bumi ? Apakah kebetulan
juga, bahwa garis meridian yang melalui piramida-piramida membagi benua dan samudera menjadi dua bagian
yang sama? Apakah kebetulan juga, bahwa luas bidang dasar piramida itu bila dibagi oleh dua kali tinggi, hasil
baginya adalah r = 3.14159 yang sangat terkenal itu? Apakah kebetulan juga, bahwa mereka dapat
menemukan cara menghitung berat bumi?
Apakah kebetulan juga bahwa tanah yang berbatu-batu di mana bangunan itu berdiri telah diratakan secara
cermat sekali ?
Tidak ada sedikitpun petunjuk untuk menjelaskan mengapa orang-orang yang membangun piramida Cheops
dan Firaun Khufu, yang justru memilih tanah padang pasir yang terjal berbatu batu untuk tempat bangunan itu.
Adalah masuk akal kalau Firaun Khufu menggunakan celah alamiah yang terdapat dalam batu karang untuk
bangunan raksasanya. Keterangan lain walaupun lemah, menyebut bahwa ia ingin mengawasi jalan nya
pekerjaan dari istana musim panasnya. Kedua alasan itu bertentangan dengan pikiran sehat. Dalam hal
pertama; apakah tidak lebih praktis kalau tempat bangunan itu lebih dekat kepada tambang di sebelah Timur,
untuk memperpendek jarak transport bahan ? Dalam hal kedua, adalah mustahil kalau Firaun mau diganggu
oleh hiruk pikuk pekerjaan pembangunan piramida, setiap hari. Oleh karena banyak kritik yang perlu
dikemukakan terhadap buku-buku keterangan tentang pemilihan tempat bangunan itu, maka beralasanlah
kiranya kalau dipertanyakan; apakah para “dewa” tidak turut menentukannya, sekali pun hanya lewat
kependetaan ? Tetapi kalau penjelasan itu diterima, maka ada lagi satu pembuk tian yang penting terhadap
teori saya tentang masa silam utopi dari umat manusia.
Karena piramida itu tidak hanya membagi benua-benua dan samudera-samudera menjadi dua bagian yang
sama, melainkan juga letaknya yang tepat di pusat gratifikasi benua-benua. Kalau kenyataan di atas bukan
kebetulan dan memang agaknya sulit untuk percaya bahwa itu kebetulan saja, maka lokasi bangunan itu pasti
telah dipilih oleh makhluk-makhluk yang mengetahui benar bentuk bulat dari bumi ini serta bentangan benua
dan samudera di atasnya. Dalam hubungan ini, hendak nya kita ingat kembali akan peta-peta milik Piri Reis
dari Turki yang terurai dalam bab III . Jadi semuanya itu bukanlah kebetulan atau harus di anggap dongeng
bohong belaka.
Dengan kekuatan apa, dengan “mesin-mesin” apa dan dengan teknik apa lapangan batu terjal itu
diratakannya? Bagaimana caranya para akhli teknik bangunan itu membuat terowongan ke bawah menembus
batu karang itu? Dan bagaimana cara meneranginya ? Baik di sini maupun di pusara pusara para raja di
lembah-lembah, yang dipahat dalam balok batu karang, tidak ada tanda-tanda bahwa di situ pernah digunakan
obor atau sebangsanya. Tidak ada langit-langit atau dinding yang hitam atau bekas membersihkan jelaga
hitam.
Bagaimana dan dengan alat apakah balok batu itu dipotong dan dikeluarkan dari tambangnya? Bagaimana
menajamkan pinggirannya dan menghaluskan sisi-sisinya? Bagaimana mengangkutnya dari tambang ke
tempat pekerjaan dan bagaimana menyambungkannya satu sama lain sampai seteliti seperseribu inci?
Sekali lagi orang dapat memilih penjelasan di antara: dataran miring dan rata di mana balok-balok batu
didorong, perancah dan jalur-jalur landai. Dan tentu saja tenaga kerja yang terdiri dari ratusan ribu budak
belian, petani, akhli bangunan, dan pengrajin. Tiada satupun dari keterangan-keterangan ini yang tahan
terhadap penelitian-penelitian kritis. Piramida besar sampai sekarang masih merupakan bukti nyata dari suatu
teknik yang tak pernah dapat dipahami. Sekarang dalam abad kedua puluh ini, tiada seorang arsitekpun yang
dapat menjiplak piramida Cheops itu, sekalipun disediakan bahan dan dana dari segenap benua. 2.600.000
potong balok raksasa telah dipotong dan ditambang, dihias, diangkut dan dipasang di tempat lokasi bangunan
seteliti satu perseribu bagian dari satu inci. Dan jauh di bawah di dalam ruang-ruang, semua dindingnya
digambari dengan cat berwarna.
Lokasi dari piramida itu adalah hasil ulah dari Firaun. Ukuran “klasik”nya yang tak tertandingi itu bagi para
pendirinya hanyalah secara kebetulan saja. Beberapa ratus ribu pekerja mendorong dan menghela balok batu
yang masing-masing seberat dua belas ton lebih ke atas jalur landai dengan tali yang tak pernah ada di atas
gelondongan-gelondongan kayu yang tak pernah ada. Kelompok pekerja ini hidup dengan makan gandum tak
juga pernah ada. Mereka tidur dalam kemah kemah yang tak pernah ada yang dibangun di luar halaman
istana musim panas Firaun. Para pekerja itu dikomando dengan aba-aba “Holopis kuntul baris” melalui
pengeras suara yang tak pernah ada, maka dengan demikian balok batu itu serentak didorong ke atas.
Dan jika para pekerja yang rajin itu setiap hari mencapai jatah pekerjaan hariannya yang luar biasa itu, yakni
sepuluh balok ditumpuk satu di atas yang lainnya; maka untuk memasang 2.600. 000 balok batu menjadi
suatu piramida yang megah itu memerlukan waktu 260.000 hari atau 664 tahun. Ya, dan jangan lupa pula,
bahwa semua itu terjadi sebagai hasil dari ulah seorang raja sinting yang tak pernah mengalami penyelesaian
bangunan yang telah diilhamkan kepadanya.
Memang, tak perlu menganggap teori ini sebagai sesuatu yang menggelikan. Siapakah secara jujur percaya
bahwa piramida itu tak lain dan tak bukan ialah pusara seorang raja? Siapakah yang sekarang menganggap
bahwa penerusan simbol simbol matematika dan astronomi adalah suatu hal yang kebetulan belaka ?
Sekarang sudah disepakati umum, bahwa piramida besar itu dihubungkan kepada Firaun Khufu sebagai
penerima ilhamnya dan sebagai pendirinya. Mengapa ? Karena semua prasastinya dan lembaran-lembaran
sejarahnya dihubung-hubungkan kepadanya.
Bagi saya jelas nampaknya, bahwa piramida itu tidak dapat dibangun dalam satu masa hidup seseorang.
Tetapi bagaimana kalau Khufu memaksa orang untuk membuat prasasti dan lembaran sejarah itu karena ingin
termasyhur? Cara itu sangat populer di zaman purba; banyak bangunan menjadi saksi. Jika seorang diktator
ingin supaya dirinya masyhur, ia memerintahkan supaya keinginannya itu terlaksana, kalau itu halnya maka
piramida itu telah ada sebelum Khufu memperkenalkan diri.
Di Perpustakaan Bohlean di Oxford terdapat sebuah tulisan kuno di mana pengarang “Copti” bernama Mas-
Udi menetapkan bahwa Raja Mesir yang bernama Surid-lah yang membangun piramida besar di Mesir itu.
Cukup aneh, Surid ini memerintah Mesir sebelum banjir besar. Raja Surid yang bijaksana ini memerintahkan
para pendeta, supaya menuliskan segala kearifan mereka, dan menyembunyikannya di dalam piramida. Jadi,
kalau menurut hikayat Copti, piramida itu didirikan sebelum banjir besar. Herodatus dalam Buku II nya tentang
“Sejarah “ memperkuat dugaan itu. Para pendeta dari Thebes telah menunjukkan kepadanya 341 buah
patung raksasa, yang masing-masing berarti satu generasi kependetaan tinggi, sedang seluruhnya mencakup
masa 11.340 tahun.
Sekarang kita mengetahui bahwa tiap pendeta tinggi telah dibuatkan patung baginya untuk selama masa
kehidupannya. Herodatus juga mengatakan bahwa selama ia bertempat tinggal di Thebes setiap pendeta
secara bergiliran menunjukkan patungnya masing-masing kepadanya sebagai bukti seorang putera selalu
mengikuti jejak ayahnya. Para pendeta itu menjamin bahwa pernyataan mereka itu sangat cermat karena
mereka telah mencatat segala sesuatunya untuk generasi-generasi mendatang. Mereka menerangkan pula
bahwa tiap patung dari 341 buah patung itu mewakili satu generasi. Sebelum 341 generasi ini para dewa hidup
bersama-sama manusia biasa, sedangkan setelah itu tidak ada seorang dewapun yang datang mengunjungi
mereka dalam bentuk manusia.
Masa sejarah mesir ditaksir kirakira 6500 ta hun. Kalau begitu mengapa para pendeta itu tak malu-malunya
mendustai wisatawan Herodatus dengan 11.340 tahun itu? Dan mengapa mereka itu dengan tegas
menekankan bahwa tak ada dewa hidup di tengah-tengah mereka selama 341 generasi? Perincian ini tidak
akan ada artinya sama sekali jika para “dewa” benar-benar tidak pernah hidup di antara mereka di zaman yang
silam itu.
Kita hampir tidak mengetahui apa-apa tentang bagaimana, mengapa, dan bila piramida itu dibangun. Sebuah
gunung buatan setinggi 490 kaki dengan berat 6.500.000 ton berdiri di sana sebagai bukti dari kehebatan
yang dicapai pada waktu itu. Monumen ini diduga bukan apa-apa melainkan kuburan mewah dari seorang raja
yang sangat royal. Setiap orang yang percaya kepada keterangan demikian boleh datang di sana.
Mummi-mummi yang juga tidak dapat mengerti dan belum dijelaskan dengan meyakinkan, menatap kita dari
masa yang baru saja silam, seolah-olah mereka itu memegang beberapa rahasia ajaib.
Sebagian orang ada yang mengetahui teknik pembalseman mayat. Penemuan-penemuan arkeologis
memperkuat dugaan bahwa makhluk purbakala percaya akan adanya kehidupan badaniah kedua di kemudian
hari. Interpretasi demikian akan dapat diterima jika dalam falsafah agama dari kepurbakalaan terdapat bukti
yang paling dekat dari kepercayaan akan kehidupan badaniah kedua. Jika nenek moyang kita yang masih
primitif itu hanya percaya akan adanya kehidupan rohaniah kedua, maka mereka tidak akan begitu repot-repot
mengenai kematian itu. Tetapi penemuan dalam pusara-pusara di Mesir memberikan contoh demi contoh dari
pembalseman mayat sebagai persiapan untuk kehidupan badaniah yang kedua itu.
Apa yang dikatakan oleh bukti, apa yang di katakan oleh pembuktian terlihat dan tidak akan begitu
menggelikan. Lukisan-lukisan dan hikayat hikayat sebenarnya menunjukkan bahwa para “dewa” berjanji akan
datang kembali dari bintang bintang untuk membangunkan mayat-mayat yang dibalsem sesempurnasempurnanya,
untuk memasuki kehidupan baru. Itu sebabnya maka ketentuan tentang pembalseman mayat
dalam ruang-ruang penguburan dibuat sedemikian praktis, karena diperuntukkan bagi kehidupan di balik
kubur ini. Jika tidak demikian, lalu apa kiranya yang telah mereka lakukan dengan uang, permata, dan segala
benda lsesayangan mereka? Hal itu mereka lakukan karena bagi mereka itu bahkan di dalam pusaranya
disediakan juga beberapa pelayan yang pasti telah dikubur hidup-hidup.Titik berat dari segala persiapan itu
ialah kelanjutan kehidupan dalam kehidupan baru.
Pusara-pusara itu sangat tahan lama dan kokoh hampir tahan akan bom atom, dan dapat menahan
keganasan alam sepanjang masa. Barang-barang berharga yang ditinggalkan di dalarnnya, seperti emas, dan
batu pertama, sebenarnya tak dapat rusak.
Di sini saya tidak akan menyinggung pembicaraan tentang penyalahgunaan pembalseman yang terjadi
kemudian. Saya harus berkepentingan dengan pertanyaan: Siapakah gerangan yang memasukkan gagasan
tentang kelahiran kembali badaniah ini ke dalam benak orang-orang penyembah berhala ini? Dan dari mana
datangnya gagasan yang berani ini yakni bahwa sel-sel dari badan seseorang harus diawetkan, sehingga, jika
mayatnya disimpan di dalam tempat yang ditutup sangat rapat dapat dibangunkan kembali untuk mematuhi
kehidupan baru, beribu-ribu tahun kemudian?
Selama ini masalah pembangunan kembali yang misterius ini hanya baru ditinjau dari segi keagamaan saja.
Tetapi bagaimana halnya dengan Firaun yang kita anggap lebih banyak mengetahui tentang sifat dan
kebiasaan para “dewa” dari pada kawula-kawula negaranya, apakah dia juga mempunyai gagasan-gagasan
gila ini? “Aku harus membuat pekuburan bagi diriku sendiri, yang tak dapat rusak selama jutaan tahun dan
dapat dilihat orang jauh dari seberang negeri. Para dewa berjanji akan datang kembali dan akan
membangunkan daku, untuk memulihkan daku hidup kembali”.
Apa yang harus kita katakan tentang itu dalam abad ruang angkasa ini? Akhli pengetahuan alam dan
astronomi Robert C.W. Ettinger, dalam bukunya berjudul “Prospek dari Keabadian”, terbitan tahun 1965;
menyarankan suatu cara untuk membekukan badan kita sedemikian rupa sehingga sel-selnya dilihat dari segi
biologi dan medis masih tetap hidup, tetapi kegiatannya terhambat satu milyar kali. Gagasan ini di masa
sekarang masih utopis, tetapi kenyataannya klinik besar sekarang mempunyai “bank tulang” yang
mengawetkan tulang manusia dalam keadaan sangat dingin yang membekukan, sehingga selselnya tetap
hidup selama bertahun-tahun dan pada waktunya nanti dapat digunakan kembali. Darah segar ini pun sudah
diperaktekan di seluruh dunia sekarang dapat disimpan untuk waktu yang tak terbatas pada suhu 196_C di
bawah nol, sedangkan sel-sel hidup dapat disimpan untuk waktu yang hampir tak terbatas pada suhu dari
nitrogen cair. Apakah Firaun juga mempunyai gagasan yang fantastis, yang segera direalisasikan dalam
praktek?
Yang berikut ini anda harus membacanya dua kali untuk memahami benar implikasi yang fantastis dari
penelitian ilmiah sebagai berikut. Walau pun bulan Maret 1963, para biologis dari University of Oklahoma
memastikan bahwa sel-sel kulit dari seorang putera Mesir yang. bernama Mene dapat hidup, sedangkan ia
telah meninggal dunia beberapa ribu tahun yang lalu.
Beberapa penemuan di berbagai tempat yang ada muminya, mummi itu telah diawetkan demikian
sempurnanya dan utuh, sehingga kelihatannya seperti hidup.
Mummi glasier peninggalan orang-orang Inca sudah bertahan berabad-abad dan secara teori mereka mampu
untuk hidup kembali. Utopi?
Dalam musim panas tahun 1965, televisi Rusia memperlihatkan dua ekor anjing yang telah dibekukan selama
seminggu. Pada hari ketujuh anjing-anjing itu di “cairkan” kembali dan sekonyong-konyong hidup kembali
seperti sediakala.
Orang Amerika (ini bukan rahasia) sedang memikirkan dengan serius suatu bagian dari program ruang
angkasanya, yakni bagaimana membekukan para astronot yang akan datang untuk perjalanan mereka yang
panjang sekali ke bintang-bintang yang jauh.
Dr. Eltinger yang sering mencek masa kini dan meramalkan hari depan di mana orang tidak lagi akan dapat
dimakan api atau cacing.
Badan manusia akan dibekukan dalam kuburan yang sangat dingin atau bunker-bunker pembeku, sambil
menanti kemajuan di bidang kedokteran yang dapat menghilangkan sebab-sebab dari kematian mereka dan
kemudian menghidupkan mereka ke dalam kehidupan baru. Orang dapat memahami impian yang mengerikan
tentang sepasukan tentara yang dibekukan, dan kemudian akan “dicairkan” kembali bila perlu, terutama dalam
keadaan perang; suatu gagasan yang benar-benar menakutkan.
Tetapi apa hubungannya mummi itu dengan teori kita tentang wisatawan-wisatawan ruang angkasa di masa
silam itu? Apakah saya dengan tergesa-gesa sedang menggali bukti-bukti? Saya bertanya: Bagaimana orangorang
purbakala mengetahui bahwa sel-sel badan tetap hidup kemudian mengendur semilyar kali setelah
mengalami pengerjaan tertentu ? Dan darimana asalnya gagasan tentang keabadian dan bagaimana orangorang
mendapatkan konsepsi tentang kebangkitan kembali badaniah?
Kebanyakan orang purbakala mengetahui teknik permummian; orang kaya benar-benar mempraktekkannya.
Di sini saya tidak mempersoalkan fakta yang dapat diperlihatkan ini melainkan mencari jawaban atas
pertanyaan, dari mana asalnya gagasan tentang bangun kembali atau hidup kembali.
Apakah gagasan itu timbul pada beberapa raja atau putra mahkota bangsa pengembara hanya semata-mata
secara kebetulan saja, atau karena ada beberapa penduduk kaya yang melihat para “ dewa” merawat mayat
dengan proses yang sulit kemudian menyimpannya dalam peti mayat yang terbuat dari batu yang tahan bom?
Apakah ada beberapa wisatawan ruang angkasa mengajarkan kepada seorang pangeran yang cerdas dan
berdarah raja, bagaimana mayat dapat di bangunkan kembalise telah mendapat perawatan khusus?
Spekulasi ini mernerlukan konfirmasi dari sumber-sumber kontemporer. Dalam beberapa ratus tahun
mendatang umat manusia akan menguasai penerbangan ruang angkasa yang sekarang masih di anggap tak
masuk akal. Biro-biro keparawisataan akan menawarkan tour ke planet-planet dengan tanggal
pemberangkatan dan tanggal kembali yang tepat dalam brosur-brosurnya.
Jelaslah bahwa persyaratan bagi penguasaan ini ialah semua cabang ilmu pengetahuan harus mengikuti
perkembangan ruang anskasa. Elektronika dan sibernetika saja tidak cukup. Kedokteran dan biologi akan
memberikan bantuannya dengan jalan menemukan suatu cara untuk memperpanjang fungsi-fungsi vital dari
badan manusia. Bagian ini dari penelitian ruang angkasa sekarang sedang giat-giatnya bekerja.
Di sini kita harus bertanya kepada diri sendiri: Apakah para angkasawan purbakala sudah mengetahui bahwa
kita harus tumbuh kembali dari permulaan lagi? Apakah para cendekiawan purbakala telah mengetahui caracara
pengawetan badan manusia supaya dibangkitkan kembali setelah ribuan tahun kemudian? Atau
barangkali ada beberapa “dewa “ yang cerdas, menaruh perhatian pada “pengawetan” sekurang-kurangnya
satu sosok mayat dengan maksud supaya kelak kemudian hari dapat dihidupkan kembali untuk ditanyai
tentang sejarah generasinya ? Mungkinlah interogasi semacam itu yang dilakukan oleh para dewa sudah
pernah terjadi?
Dalam perjalanan waktu berabad-abad, mummifikasi yang semula adalah suatu hal yang suci, lama kelamaan
akan menjadi mode. Sekonyong konyong setiap orang ingin dihidupkan kembali. Sekonyong-konyong setiap
orang menduga bahwa ia dapat memasuki kehidupan baru selama ia masih mengikuti cara-cara nenek
moyangnya.
Para pendeta tinggi yang juga mempunyai pengetahun tentang kebangkitan kembali banyak mempengaruhi
cara peribadatan ini, karena kelom poknya memanfaatkan cara ini dengan baik.
Saya telah menyebut kemustahilan jasmaniah dan usia para raja Sumeria, dan telah menyebut beberapa data
dari Injil. Telah saya pertanyakan pula, apakah tidak mungkin bahwa raja-raja ini adalah wisatawan ruang
angkasa yang telah memperpanjang jenjang hidupnya melalui efek pergeseran waktu pada penerbangan
antar bintang yang kecepatannya hanya sedikit di bawah kecepatan cahaya.
Apakah kita barangkali sedang mendapat petunjuk ke dalam zaman orang-orang yang disebut dalam naskah,
kalau kita mengasumsikan bahwa mereka itu telah dibalsem atau dibekukan ?
Kalau kita ikuti teori ini, maka para wisatawan ruang angkasa yang tak dikenal itu mungkin adalah orang-orang
terkemuka purbakala yang dibekukan ditidurkan seperti dalam dongeng, kemudian dikeluarkan dari tempat
penyimpanannya, “dicairkan kembali, kemudian bercakap-cakap dalam kunjungan mereka berikutnya. Pada
tiap akhir kunjungannya, para pendeta tinggi yang diangkat oleh para pendeta wisatawan ruang angkasa
ditugaskan untuk menyiapkan mayat yang akan diawetkan dan disimpan dalam kuilkuil besar sampai para
“dewa” itu datang kembali.
Tak mungkin? Menggelikan? Justru kebanyakan manusia yang merasa dirinya terikat oleh hukum-hukum alam
itu, yang paling bodohlah yang menentang teori ini. Bukankah alam sendiri yang suka mempertontonkan
contoh-contoh yang bagus sekali tentang “tidur di musim dingin” dan kebangkitan kembali ini ?
Ada beberapa jenis ikan yang setelah dibekukan dan kemudian dimasukkan ke dalam suhu yang sedang,
dapat hidup kembali dan berenang lagi dalam air. Bunga-bunga dan tempayak bukan hanya suka tidur di
musim dingin, melainkan mereka dapat muncul kembali dengan segar bugar dalam warna dan bungkus yang
baru.
Biarlah saya menjadi penganjur terkutuk. Apakah orang-orang Mesir belajar pembalseman mayat itu dari
alam? Kalau memang demikian adanya, maka harus ada cara pemujaan khas bagi kupu-kupu atau kembang,
atau sekurang-kurangnya ada tanda-tanda dari cara pemujaan demikian. Tetapi mayatnya tidak ada. Pusarapusara
di bawah tanah memang berisi peti-peti batu besar berisi binatang-binatang yang dibalsem. Tetapi
sekalipun diketahui keadaan cuaca atau iklimnya, orang-orang Mesir itu tak dapat meniru tidur musim dingin
dari binatang.
Lima mil dari Helwan terdapat lebih 5000 pusara dari berbagai ukuran yang semuanya berasal dari zaman
dinasti pertama dan kedua. Pusara-pusara ini menunjukkan bahwa mumifikasi telah berusia 6.000 tahun lebih.
Dalam tahun 1953 Profesor Emery menemukan sebuah pusara besar dalam pekuburan yang sudah tidak
terpakai lagi di Sakkare Utara. Pusara ini dihubungkan dengan pikiran dari dinasti pertama. Terpisah dari
pusara utama terdapat lagi 72 pusara lainnya, diatur dalam tiga barisan. Dalam pusara-pusara ini dibaringkan
mayat-mayat para pelayan yang ingin menyertai raja-rajanya dalam dunia baru. Tidak terdapat tanda-tanda
bekas penganiayaan pada mayat 64 orang pemuda dan 7 orang pemudi ini. Mengapa ke 72 orang ini mau
dikurung dalam ruangan ini sampai mati ?
Kepercayaan akan kehidupan di balik kuburlah yang dapat memberi penjelasan tentang phenomena ini. Di
samping emas dan batu permata, dalam pusara para Firaun itu terdapat pula persediaan jagung, minyak
nabati, rempah-rempah; yang jelas dimaksudkan untuk persediaan penghidupan yang akan datang. Selain
oleh para pencuri kuburan, pusara-pusara itu pernah pula dibuka oleh firaun-firaun. Para firaun ini menemukan
persediaan pangan bagi nenek moyangnya itu dalam keadaan masih baik dan utuh. Dengan perkataan lain,
persediaan pangan itu tidak dimakan oleh mumi dan tidak pula dibawa pindah ke dunia lain. Dan jika pusara ini
akan ditutup kembali; persedian pangan segar dimasukkan ke dalam ruang di bawah tanah yang aman
terkunci, dan disegel supaya tidak dicuri orang. Jelas sekali bahwa orang orang Mesir percaya akan
kebangkitan kembali dalam waktu mendatang yang jauh, bukan kebangkitan kembali yang segera dalam
waktu dekat ini.
Pada bulan Juni tahun 1954, juga di Sakkara telah ditemukan sebuah pusara yang masih utuh, belum
dirampok orang. Ini terbukti dari adanya peti yang berisi emas dan batu permata masih utuh dalam ruang
pekuburan. Peti batu berisi mumi itu ditutup dengan tutup yang bisa digeser, bukan dengan tutup yang
biasanya dapat di angkat. Pada tanggal 6 Juli, Dr. Gonein membuka peti batu itu dengan segala upacara.
Pusara itu ternyata kosong. Sama sekali kosong tanpa mumi. Apakah muminya pindah meninggalkan segala
perhiasannya?
Rodenko seorang Rusia, menemukan kuburan dari Kurgan V, lima puluh mil dari perbatasan Mongolia Luar.
Kuburan ini berbentuk bukit batu yang di dalamnya diperhalus dengan kayu. Seluruh ruang pekuburannya
dibungkus oleh lapisan es abadi, sehingga isi dari pekuburan itu ada dalam pengawetan dengan jalan
pembekuan. Satu di antara ruang-ruang pekuburan itu berisi mayat seorang pria dan seorang wanita yang
kedua-duanya telah dibalsem. Kedua-duanya dibekali persediaan yang mungkin akan mereka butuhkan dalam
kehidupan yang akan datang; seperti makanan dalam pinggan, pakaian, batu permata, dan alat-alat musik. Se
gala sesuatunya beku dan dalam keadaan pengawetan yang sempurna sekali. Demikian juga keadaan mumimumi
yang telanjang bulat. Dalam salah satu ruang pekuburan, para sarjana menemukan suatu persegi
panjang berisi 4 baris yang masing-masing terdiri dari 6 bujur sangkar. Dalam tiap bujur sangkar ini terdapat
lukisan. Keseluruhan persegi panjang ini merupakan suatu tiruan dari permadani batu yang ada di Istana
Asyiria di Niniveh.
Arca-arca aneh yang menyerupai Sphinx dengan tanduk yang rumit di atas kepalanya dan sayap di
punggungnya dapat dilihat dengan jelas. Posisi arca-arca ini seperti yang akan terbang. Tetapi motivasi untuk
kehidupan rohaniah berdua tak mungkin dapat didasarkan kepada penemuan-penemuan di Mongolia itu. Cara
pembekuan yang dipergunakan di sana untuk itulah pekuburan ini sebelah dalamnya dilapisi kayu, adalah
terlalu banyak di dunia ini dan nyata sekali di maksudkan untuk keperluan-keperluan yang berkaitan dengan
bumi.
Mengapa orang-orang purbakala itu menduga bahwa mayat yang diproses secara ini dapat mencapai suatu
keadaan yang memungkinkan pembangkitan kembali? Ini tetap merupakan suatu teka teki, walaupun hanya
untuk sementara.
Di kampung Wu Chan di negeri Cina terdapat sebuah pusara yang berbentuk persegi panjang dengan ukuran
45 x 39 kaki. Di dalamnya terdapat kerangka tulang dari 17 lelaki dan 24 perempuan. Tidak seorangpun di
antaranya menunjukkan tanda-tanda bekas kekerasan.
Ada pusara gletsier di Andes, ada pusara es di Liberia, ada pusara perorangan maupun kelompok di Cina,
Sumeria dan Mesir. Mumi-mumi telah ditemukan di Utara maupun di Afrika Selatan. Semua mayat itu dibekali
perbekalan untuk kehidupan baru. Semua pusara telah dibangun dan dibuat demikian kokoh sehingga dapat
bertahan ribuan tahun.
Apakah semua ini hanya kebetulan belaka? Apakah semua ini hanya kesukaran atau ulah aneh aneh dari
nenek moyang kita? Apakah memang ada janji di zaman purbakala akan adanya perkembalian badaniah yang
tidak kita ketahui? Siapakah yang membuat janji itu?
Beberapa pusara yang sudah berumur 10.000 tahun telah digali di Jericho. Di dalamnya ditemukan sejumlah
model tengkorak yang sudah berumur 8.000 tahun. Model-model itu dibuat dari batu kapur. Inipun
mengherankan, karena orang-orang dari zaman itu belum mengenal teknik pembuatan tembikar. Di bagian lain
dari Jericho di temukan rumah berderet-deret. Dinding-dinding rumah di bagian atasnya melengkung ke dalam
seperti kubah. Pemeriksaan dengan isotop carbon C 14 menunjukkan, bahwa rumah-rumah itu sudah
berumur 10.400 tahun. Kita ketahui bahwa isotop carbon C 14 dapat digunakan untuk menentukan umur
rumah-rumah itu sama benar dengan yang telah disampaikan oleh para pendeta Mesir kepada kita. Mereka
mengatakan bahwa nenek moyang mereka yang juga pendeta, telah dibebas-tugaskan 11.000 tahun yang
lalu. Apakah ini juga hanya kebetulan saja ?
Batu-batuan pra sejarah di Lussac, Perancis merupakan penemuan yang istimewa. Batu-batu itu
menunjukkan gambar dari pria-pria yang berpakaian modern; bertopi, memakai jaket, dan bercelana pendek.
Abbe Breuil mengatakan bahwa gambar-gambar itu adalah otentik. Pernyataannya ini menyebabkan pra
sejarah menjadi membingungkan. Siapakah yang telah memahat batu-batu itu? Siapakah yang telah
mengkhayal bahwa penghuni gua yang masih berbaju kulit binatang, dapat menggambar manusia dari abad
ke duapuluh pada dinding?
Beberapa lukisan dari zaman batu yang betul betul hebat, telah ditemukan pula di Luscaux di Perancis Selatan
dalam tahun 1940. Lukisan-lukisan itu begitu hidup dan masih utuh, bagaikan lukisan di zaman sekarang.
Dua pertanyaan segera timbul dalam benak kita. Bagaimana caranya menerangi dinding gua itu supaya para
artis zaman batu itu dapat menyelesaikan tugasnya yang.sulit itu? Mengapa dinding-dinding itu harus dihias
dengan lukisan-lukisan yang mengherankan itu ? Biarkanlah pertanyaan-pertanyaan itu dijawab oleh mereka
yang menganggap pertanyaan itu pertanyaan tolol. Jika penghuni gua dari zaman batu itu masih primitif dan
setengah biadab, mereka tak akan mampu membuat lukisan-lukisan yang sangat mengherankan itu. Tetapi
kalau mereka mampu, mengapa mereka tidak mampu membuat kubu-kubu untuk berteduh? Para pejabat
terkemuka pun mengakui bahwa sudah sejak jutaan tahun yang lalu, binatang mampu membuat sarangnya
sendiri untuk tempat berteduh. Tetapi pengakuan bahwa homo sapiens juga mempunyai kemampuan yang
sama seperti sejak jutaan tahun pula, tidak cocok dengan hipotesa kerja kita.
Di padang pasir Gobi, jauh di bawah reruntuhan Khara Khota, Profesor Koslov menemukan pusara yang
ditaksir berasal dari tahun 12.000 sebelum Masehi. Pusara itu tempatnya tidak jauh dari tempat vitrifikasi yang
ajaib itu, yang hanya mungkin terjadi dengan panas yang sangat tinggi. Peti batunya berisi dua mayat pria
kaya. Di atas peti batu itu terdapat suatu tanda lingkaran dibagi dua dengan sebuah garis vertikal.
Di Pegunungan Subis di pantai barat Borneo terdapat suatu jaringan gua-gua yang di dalamnya dibuat seperti
katedral. Di antara penemuan yang hebat ini terdapat pula hasil tenunan yang demikian halus dan indahnya,
sehingga orang tak dapat membayangkan bahwa itu telah dibuat oleh orang-orang setengah biadab.
Pertanyaan, pertanyaan, sekali lagi pertanyaan, ...
Keraguan pertama dengan lihainya beralih bentuk menjadi teori arkeologi stereotype. Tetapi yang kita perlukan
ialah pendobrakan semak belukar dari masa silam itu. Batu-batu penunjuk harus didirikan lagi, bila perlu harus
ditetapkan sejumlah seri tanggal tertentu.
Boleh saya jelaskan di sini bahwa saya tidak meragukan sejarah dari 2000 tahun terakhir. Saya hanya
berbicara khusus tentang sejarah purbakala yang jauh ke belakang, tentang kegelapan yang paling hitam;
yang ingin saya terangi dengan jalan mengajukan pertanyaan-pertanyaan baru. Saya juga tidak dapat
memberikan angka dan tanggal yang menunjukkan sejak kapan kunjungan para cendekiawan tak dikenal dari
alam semesta dan kapan mulai mempengaruhi para cendekiawan muda. Tetapi saya berani meragukan cara
sekarang untuk menentukan tanggal yang ditetapkan kepada masa silam itu.
Saya ingin menyarankan supaya peristiwa yang sedang menjadi perhatian saya, yakni zaman Paleolithic Dini
ditempatkan antara tahun 10.000 dan 40.000 sebelum masehi. Cara kita untuk menentukan tanggal yang ada
sampai sekarang, termasuk di dalamnya C 14 yang memuaskan setiap orang itu, akan meninggalkan gap
besar apabila kita harus berurusan dengan jangka waktu kurang dari 5000 tahun. Semakin tua yang harus kita
teliti, radio carbon itu semakin tidak dapat di percaya. Bahkan para sarjana vang terkenalpun menganggap
metoda C 14 itu sebagai gertakan belaka, karena kalau suatu substansi organis berumur antara 30.000 dan
50.000 tahun, umur sebenarnya dapat ditentukan berapa saja di antara kedua batas itu.
Kritik-kritik ini hanya dapat diterima dalam batas-batas tertentu; karena meskipun begitu cara kedua yang
sesuai dengan C 14 dan didasarkan kepada alat pengukur paling mutakhir tak ayal lagi sangat diperlukan.


Erich Von Daniken

No comments:

Post a Comment